Devin menilai permainan mereka sebenarnya sudah berjalan sesuai rencana pada dua gim awal. Namun, fokus yang tiba-tiba hilang menjelang akhir gim kedua menjadi titik balik pertandingan.
"Sebenarnya dari awal cara mainnya sudah benar game pertama dan game kedua. Di game kedua terakhir waktu kedudukan 17-18, tiba-tiba langsung hilang fokusnya. Terus di game ketiga, kami langsung tertekan dan lawan lebih enak mainnya," ujar Devin, dikutip dari rilis resmi PBSI.
Kehilangan gim kedua membuat kepercayaan diri lawan meningkat. Sebaliknya, Devin/Faathir kesulitan keluar dari tekanan hingga akhirnya kalah 17-21 pada gim kedua dan 11-21 pada gim ketiga.
Bagi Devin/Faathir, Indonesia Open 2026 menjadi pengalaman berharga. Ini merupakan kali kedua mereka tampil di Istora Senayan setelah sebelumnya merasakan atmosfer Indonesia Masters 2026.
Meski tidak merasa terbebani, Faathir mengakui suasana Indonesia Open berbeda dibanding turnamen lain. Status turnamen Super 1000 dan dukungan ribuan penonton membuat atmosfer pertandingan terasa jauh lebih besar.