Premier League tampil dominan dengan enam klub menembus 10 besar. Manchester City berada di peringkat keenam dengan 829 juta euro atau Rp16,3 triliun.
Arsenal menempati posisi ketujuh dengan 821 juta euro atau Rp16,2 triliun, Tottenham di urutan kedelapan dengan 672 juta euro atau Rp13,2 triliun, dan Chelsea melengkapi 10 besar lewat pendapatan 584 juta euro atau Rp11,5 triliun.
Tiga klub Inggris lain juga masuk 20 besar. Aston Villa berada di posisi ke-14 dengan 450 juta euro atau Rp8,8 triliun, Newcastle di peringkat ke-17 dengan 398 juta euro atau Rp7,8 triliun, sementara West Ham menempati urutan ke-20 dengan pendapatan 276 juta euro atau Rp5,4 triliun.
Jika ditarik ke musim 2005/2006, peta kekuatan finansial terlihat jauh berbeda. Real Madrid tetap memimpin dengan pendapatan 292,2 juta euro atau sekitar Rp5,7 triliun, didorong daya tarik global David Beckham yang kala itu dikenal sebagai pemain paling marketable.
Barcelona berada di posisi kedua usai menjuarai Liga Champions dengan pendapatan 259,1 juta euro atau Rp5,1 triliun. Juventus melengkapi tiga besar lewat pemasukan 251,2 juta euro atau Rp4,9 triliun, sebelum akhirnya terlempar akibat degradasi ke Serie B imbas skandal Calciopoli.
Manchester United menjadi klub Inggris terkaya pada 2006 dengan pendapatan 242,6 juta euro atau Rp4,7 triliun. Deloitte kala itu menyebut dia sebagai “operasi klub sepak bola paling menguntungkan di dunia.”
Komposisi 10 besar tahun 2006 turut diisi AC Milan, Chelsea, Inter Milan, Bayern Munchen, Arsenal, dan Liverpool. Klub seperti Lyon, Roma, Schalke, Rangers, hingga Hamburg juga masuk daftar, meski kini sebagian besar tak lagi stabil di level elite.
Perbandingan dua era ini memperlihatkan transformasi masif bisnis sepak bola dunia. Nilai klub melonjak berkali-kali lipat, Premier League semakin dominan, sementara Real Madrid konsisten menjadi simbol kekuatan finansial global.