Padahal, Liverpool memiliki sejumlah pemain menyerang berkualitas. Alexander Isak telah mencetak enam gol dari delapan penampilan di Premier League, tetapi penyerang tersebut masih menghadapi keterbatasan suplai bola dalam sejumlah pertandingan.
Dua rekrutan mahal Liverpool, Florian Wirtz dan Bradley Barcola, juga belum menunjukkan kontribusi akhir yang konsisten. Keduanya masih dituntut meningkatkan efektivitas dalam menciptakan maupun menyelesaikan peluang.
Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, sebenarnya mulai memperlihatkan karakter permainan melalui tekanan tinggi, kecepatan, serta intensitas dalam merebut bola. Namun, pendekatan tersebut belum sepenuhnya diimbangi ketajaman di sepertiga akhir lapangan.
Menghadapi Arsenal, Liverpool kembali memperlihatkan kesulitan mengubah penguasaan wilayah dan tekanan menjadi peluang berkualitas. Situasi itu semakin terlihat ketika menghadapi lawan dengan struktur pertahanan disiplin.
Di sisi lain, keberhasilan Arsenal mempertahankan keunggulan menunjukkan kematangan strategi Arteta. The Gunners mampu memanfaatkan peluang yang diperoleh sekaligus menjaga konsentrasi pertahanan hingga pertandingan berakhir.
Kini, Iraola memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kreativitas dan penyelesaian akhir Liverpool. Sebab, apabila persoalan tersebut terus berlanjut, The Reds berpotensi semakin tertinggal dalam persaingan gelar Liga Inggris musim ini.