RABAT, iNews.id – Brahim Diaz menangis usai penalti Panenka gagal yang dia eksekusi memupuskan mimpi Timnas Maroko meraih titel Piala Afrika 2025 untuk pertama kali dalam 50 tahun pada final yang ricuh melawan Timnas Senegal. Duel pamungkas itu terjadi di Stadion Rabat, Maroko, Senin (19/1/2026) dini hari WIB.
Gelandang Real Madrid itu menjadi pusat perhatian setelah mendapatkan penalti kontroversial di masa injury time babak kedua saat skor masih imbang tanpa gol. Kesempatan emas itu membuka peluang besar Maroko mengunci gelar juara di hadapan publik sendiri.
Keputusan penalti tersebut memicu kekacauan besar. Timnas Senegal bereaksi keras terhadap putusan VAR dan memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Pelatih Senegal Pape Thiaw memerintahkan pemain masuk ke ruang ganti, membuat laga terhenti selama 16 menit.
Situasi baru kembali kondusif setelah kapten Timnas Senegal Sadio Mane turun tangan. Pemain senior Senegal itu membujuk rekan setimnya keluar dari terowongan dan melanjutkan pertandingan demi menyelesaikan final.
Setelah laga dilanjutkan, Brahim Diaz maju sebagai algojo penalti. Kiper Senegal Edouard Mendy terlihat terus berbicara kepada Diaz untuk menunda eksekusi dan memengaruhi konsentrasi sang penendang.
Pada menit ke-24 masa tambahan waktu, Diaz memilih mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka. Keputusan tersebut berujung fatal karena bola melambung pelan dan langsung ditangkap Mendy tanpa kesulitan.