Inter sebenarnya sempat beberapa kali mencapai garis akhir lapangan. Namun umpan silang yang dilepaskan kerap gagal membuahkan peluang karena mudah diantisipasi pemain bertahan Milan.
“Kami mencapai garis akhir, tetapi tanpa situasi yang benar-benar bersih, lalu umpan silang kami sering dibuang oleh para bek mereka karena kami tidak pernah berada di posisi lebih dulu,” ujarnya.
Menurut Chivu, timnya juga kurang memiliki dinamika permainan. Milan lebih banyak bertahan sambil menunggu kesempatan melakukan serangan balik.
“Kami kekurangan dinamika permainan, Milan bertahan dan menunggu kami lalu melakukan serangan balik. Kami harus meningkatkan permainan dan menaikkan tempo," ucapnya.
Chivu juga menyoroti performa dua penyerang mudanya yang tampil dalam pertandingan tersebut. Meski belum tampil optimal, dia menilai pengalaman tersebut penting bagi perkembangan mereka.
“Kami sebenarnya bisa tampil lebih baik. Para penyerang masih muda, mereka tidak melakukan apa yang biasanya kami harapkan, tetapi itu bukan alasan. Saya senang dengan usaha mereka karena hanya mereka yang tersedia. Untuk dua pemain muda seperti mereka, ini pengalaman yang berharga,” katanya.
Selain kekalahan di derby, Inter juga sempat bermain imbang 0-0 melawan Como pada semifinal Coppa Italia. Mereka juga tersingkir dari Liga Champions setelah kalah dari klub Norwegia Bodo/Glimt pada babak play-off.
Meski demikian, Chivu menilai situasi di klasemen masih menguntungkan Inter. Dia menegaskan persaingan gelar belum berubah meski timnya gagal menang dalam derby.
“Masih ada 10 pertandingan tersisa, ada 30 poin yang bisa diraih. Kami harus membangun kembali dari apa yang sudah kami lakukan sejauh ini,” ucapnya.
“Kami masih memiliki keunggulan tujuh poin, masih ada 30 poin yang bisa didapat. Tidak akan ada yang berubah bahkan jika kami menang malam ini.”
Dalam sejarah Serie A, Inter dan Milan juga belum pernah memenangkan Scudetto pada musim yang sama ketika mereka kalah dalam dua edisi Derby della Madonnina.