Dia meminta operator kompetisi seperti I-League yang mengelola EPA, Liga 1, dan Liga 2 untuk terus menegakkan nilai saling menghargai.
Klub peserta juga diminta aktif menjaga lingkungan kompetisi tetap sehat dan edukatif.
PSSI mendorong penguatan sosialisasi anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan.
Pengawasan pertandingan perlu diperketat agar kompetisi usia muda menjadi ruang belajar yang aman bagi pemain.
“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi langkah Bhayangkara FC dan Dewa United yang mempertemukan dua pemain, Fadly Alberto Hengga dan Rakha Nurkholis, untuk menyelesaikan persoalan.
“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai prinsip Pancasila, meskipun berbeda daerah, semua berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” tuturnya.