Saat itu, Barcelona diperkuat sejumlah bintang seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o, Carles Puyol, dan Andres Iniesta. Sementara Lionel Messi yang saat itu berusia 18 tahun sudah masuk tim utama, tetapi tidak tampil di final akibat cedera.
Di sisi lain, PSG datang dengan ambisi besar mempertahankan gelar. Jika berhasil menang, mereka akan menyamai pencapaian Real Madrid sebagai tim yang mampu mempertahankan trofi Liga Champions di era modern.
Real Madrid bahkan mencatat sejarah lebih besar dengan meraih tiga gelar beruntun pada 2016, 2017, dan 2018. Sebelum dominasi klub Spanyol itu, capaian serupa terakhir kali dilakukan AC Milan pada 1989 dan 1990.
Final ini tidak sekadar perebutan trofi, tetapi juga menjadi panggung penentu sejarah baru. Arsenal mengincar gelar pertama mereka, sementara PSG berusaha masuk daftar elite klub yang mampu mempertahankan supremasi di Eropa.
Pertemuan dua tim dengan misi besar ini dipastikan menjadi sorotan dunia, mengingat reputasi Liga Champions sebagai kompetisi paling prestisius di level klub. Semua mata kini tertuju ke Budapest, tempat sejarah baru akan ditulis.