“Saya sebenarnya ingin punya tim saya sendiri, yang memang bisa diajak berdiskusi, kita cari solusi bareng, kita duduk bareng, kita mapping nih, apa sih yang di badan saya ini yang sekarang keluhan, apa yang bisa kita improve, apa yang harus kita jaga, dan bagaimana kita melangkah ke depannya,” sambungnya.
Jonatan menegaskan, fokus utamanya bukan pada hasil instan, melainkan proses peningkatan kualitas diri. “Kayak balik lagi yang saya bilang tadi, untuk Eropa kemarin saya nggak ada ekspektasi apa-apa gitu,” katanya.
Kepercayaan diri Jonatan mulai meningkat kembali setelah menjadi juara Korea Open pada awal September 2025. Sejak momen itu, dia merasa siap bersaing lagi dengan para elite dunia.
“Setelah juara Korea ya sudah, puji Tuhannya juga percaya diri mulai timbul balik, dan saya pengen ngelakuin yang terbaik aja gitu di Eropa,” ungkapnya.
Jonatan menghadapi persaingan sengit di turnamen-turnamen level tinggi, namun justru merasa tertantang.
“Terakhir di Korea kan 1.500, pas di 750 kan lebih banyak lagi tuh pemain-pemain turun. Shi Yuqi, ada Viktor Axelsen, banyak lah pemain-pemain gitu loh. Jadi saya pengen coba lagi seberapa jauh sih improvement saya selama ini,” tegasnya.
Dia menutup dengan optimisme tinggi atas progresnya sejauh ini. “So far sih menurut saya itu cukup berjalan baik dengan yang saya diskusi sama tim semua segala macam,” pungkasnya.