MU juga berhasil menekan pengeluaran untuk gaji. Total tagihan gaji mencapai 302 juta poundsterling atau sekitar Rp7,14 triliun, turun 11,3 juta poundsterling atau 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Klub mengaitkan penurunan tersebut dengan perubahan komposisi skuad utama putra serta program pengurangan jumlah pegawai yang sudah dilakukan selama dua tahun terakhir.
Kerugian sebelum pajak hampir 47 juta poundsterling atau sekitar Rp1,11 triliun tetap menjadi catatan dalam laporan keuangan MU. Kondisi tersebut dinilai sebagai alasan bagi klub untuk terus menjaga disiplin finansial.
MU juga menghemat biaya terkait kepergian mantan pelatih Ruben Amorim pada Januari. Sebelumnya, kepergian Amorim bersama stafnya tercatat sebagai biaya khusus sebesar 16,7 juta poundsterling atau sekitar Rp394,9 miliar dalam laporan kuartal ketiga.
Namun, biaya tersebut kemudian turun secara signifikan setelah Amorim mengambil pekerjaan sebagai pelatih AC Milan. Dalam laporan setahun penuh, biaya khusus MU tercatat 8,2 juta poundsterling atau sekitar Rp193,9 miliar, dengan kepergian Amorim dan stafnya menjadi bagian terbesar.
Kini, MU kembali ke Liga Champions dan memproyeksikan pendapatan musim berikutnya mencapai 740 juta hingga 760 juta poundsterling atau sekitar Rp17,50 triliun sampai Rp17,97 triliun. Kembalinya MU ke kompetisi elite Eropa membuka peluang tambahan pemasukan setelah klub mencatat rekor pendapatan meski menjalani musim tanpa sepak bola Eropa.