Pendekatan tersebut menjadi gambaran evolusi sepak bola Spanyol. La Roja tetap mempertahankan identitas teknisnya, tetapi mengadopsi permainan yang lebih sesuai dengan tuntutan sepak bola modern.
Skuad juara dunia 2010 dibangun di atas kumpulan pemain legendaris. Keberhasilan mereka tidak bergantung pada satu bintang utama, melainkan kekuatan kolektif.
Xavi mengendalikan tempo permainan, Iniesta menghadirkan kreativitas, Busquets menjaga keseimbangan lini tengah, sedangkan David Villa menjadi penyelesai akhir yang tajam.
Berbeda dengan generasi tersebut, Spanyol 2026 memiliki satu sosok yang paling banyak menyita perhatian, yaitu Lamine Yamal. Pada usia 19 tahun, pemain Barcelona itu telah berkembang menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di dunia.
Kemampuan Yamal melewati lawan dalam duel satu lawan satu, menciptakan peluang, dan menghadirkan momen-momen menentukan memberikan dimensi baru bagi permainan Spanyol. Dia menghadirkan kualitas individu yang jarang dimiliki skuad juara dunia 2010.