Pena menilai setiap pertandingan memiliki persoalan tersendiri sehingga tidak bisa disimpulkan dari hasil akhirnya saja. Dia mencontohkan laga kontra PSIM ketika Persita sempat memimpin 1-0 dan mendapatkan peluang emas untuk menggandakan keunggulan.
"Menurut saya jika kita menganalisa pertandingan-pertandingan tersebut situasinya berbeda-beda. Saat di Yogyakarta, ketika kami bermain imbang setelah sempat unggul atau lebih tepatnya saat itu skornya 1-0 kami memiliki peluang emas untuk mencetak gol kedua. Kami benar-benar punya peluang bagus. Namun pada akhirnya, kami gagal mempertahankan keunggulan tersebut," ujar Pena, dikutip dari situs resmi I.League.
Menurut pelatih asal Spanyol tersebut, pertandingan melawan PSM memiliki cerita berbeda. Dia menilai lawan tidak banyak mendapatkan peluang berbahaya sehingga Persita sebenarnya layak mengamankan kemenangan.
Pena juga menyoroti pentingnya mencetak gol tambahan ketika tim sudah unggul. Tanpa keunggulan yang lebih besar, risiko kebobolan tetap terbuka meski Persita mampu mengendalikan jalannya pertandingan.
"Saat melawan PSM, situasinya sangat berbeda karena mereka tidak memiliki peluang emas. Menurut saya, hasil imbang itu tidak adil karena kami layak memenangkan pertandingan tersebut. Dan hari ini, ketika kita tidak mencetak gol kedua, risikonya adalah kita bisa kebobolan kapan saja. Kami sempat memiliki waktu dua puluh menit dimana kami bisa saja mengunci kemenangan," jelasnya.