LONDON, iNews.id - Chelsea tengah mencari sosok baru untuk mengisi kursi panas Stamford Bridge. Satu nama yang muncul secara mengejutkan adalah Liam Rosenior.
Perjalanan kariernya—dari Hull City, singgah ke Strasbourg, hingga kini dikaitkan dengan Chelsea—memang tidak lazim. Namun justru itulah ciri khas Rosenior: selalu menempuh jalannya sendiri.
Di usia 41 tahun, Rosenior disebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Enzo Maresca. Sebuah pilihan yang memancing perdebatan, mengingat ia belum pernah menangani klub Premier League. Namun di balik itu, ada alasan kuat mengapa Chelsea melihat potensi besar dalam dirinya.
Rosenior bukan sosok asing dengan tekanan. Ia pernah dipecat Hull City hanya 19 bulan setelah ditunjuk, ironisnya pada musim ketika ia justru masuk nominasi Manajer Terbaik Championship.
Dunia sepak bola yang penuh gejolak sudah lama ia kenal—dan bagi sebagian pihak, itu justru membuatnya cocok menangani klub sekompleks Chelsea.
Tak sedikit yang meragukan. Nama Rosenior dinilai “terlalu ringan” untuk level Chelsea. Pengalamannya di Premier League nihil, dan rekam jejaknya belum dihiasi perebutan trofi besar. Namun, ada pula yang melihatnya sebagai pelatih dengan fondasi kuat untuk masa depan.
Bakat kepelatihan Rosenior sebenarnya sudah terlihat sejak dini. Ia menuntaskan lisensi UEFA A pada usia 32 tahun, saat masih aktif bermain. Ia juga sempat membantu Wayne Rooney menghadapi masa sulit di Derby County yang dilanda krisis.
Panggung utamanya datang di Hull City. Dalam kurun 18 bulan, Rosenior mengubah The Tigers dari juarang degradasi menjadi penantang promosi. Bukan hanya hasil, gaya bermain Hull kala itu juga mencuri perhatian. Timnya tampil agresif, dinamis, berani menekan tinggi, dan disiplin dalam bertahan—sebuah pendekatan yang kerap menjadi referensi di Championship.