Ekspansi wilayah tersebut turut diikuti bertambahnya peserta. Teddy mencatat sembilan sekolah tambahan di Semarang dan empat sekolah baru dari Tangerang ambil bagian pada Seri 1 musim ini. Kehadiran tim-tim baru membuat persaingan di setiap kelompok umur semakin kompetitif.
Selain hasil pertandingan, perkembangan kemampuan pemain juga menjadi sorotan. Sepanjang turnamen, para pemain belia menunjukkan teknik serta mental bertanding. Kondisi tersebut menjadi indikator pertumbuhan minat terhadap sepak bola putri sekaligus perkembangan pembinaan di berbagai daerah.
“Yang paling menggembirakan adalah kita bisa melihat karakter pemain yang semakin beragam dari seri-seri sebelumnya. Sehingga bisa dikatakan kita tidak kekurangan supply pemain dari level grassroot. Ini menjadi tanda bahwa sepak bola putri semakin diminati dan pembinaan di daerah terus berkembang ke arah yang positif. Ketika semakin banyak anak perempuan mendapatkan kesempatan bermain dan berkompetisi secara rutin, tentu akan semakin besar pula peluang kita menemukan talenta-talenta baru untuk masa depan sepak bola putri Indonesia,” lanjut Teddy.
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menilai keberlanjutan kompetisi menjadi bagian penting dalam proses pembinaan pesepak bola putri usia dini. Menurut dia, kemampuan pemain tidak cukup dinilai dari satu pertandingan karena perkembangan juga terlihat dari cara mereka belajar dan menerapkan pengalaman di laga berikutnya.
“Kalau melihat pemain dari perspektif pelatih, perkembangan mereka tidak bisa diukur hanya dari seberapa bagus mereka bermain dalam satu pertandingan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar dan membawa pembelajaran itu ke pertandingan berikutnya. Ketika mendapatkan kesempatan bermain secara berkelanjutan dengan tantangan yang berbeda, kami bisa melihat perkembangan mereka lebih jelas, mulai dari cara mengambil keputusan, membaca permainan, hingga menghadapi tekanan,” ujar Timo.