Nama Rosenior mulai benar-benar mencuat saat menangani Hull City. Dalam waktu 18 bulan, ia mengubah The Tigers dari tim papan bawah menjadi pesaing serius promosi. Hull tampil dengan sepak bola menyerang yang agresif, berani menekan tinggi, dan disiplin dalam bertahan—gaya yang membuatnya mendapat banyak pujian.
Kecintaannya pada Manchester United era Sir Alex juga terlihat dari pendekatannya terhadap pemain. Rosenior dikenal piawai membangun kedekatan emosional, memahami psikologi ruang ganti, serta tahu kapan harus memberi dukungan dan kapan menyampaikan kritik keras. Para pemain kerap merasa nyaman bekerja di bawah arahannya.
Reputasi Rosenior sebagai pengembang pemain muda juga tak terbantahkan. Di Hull, ia menjadi sosok penting di balik berkembangnya Tyler Morton, Jaden Philogene, dan Liam Delap. Ia juga berhasil menghidupkan kembali karier Fabio Carvalho yang sempat terpinggirkan di Liverpool.
Meski begitu, perjalanan Rosenior bukan tanpa cela. Hull gagal promosi dan performa tim menurun di akhir musim. Pemilik klub bahkan menilai gaya bermainnya terlalu metodis dan terkadang membosankan. Kritik lain menyebut Rosenior kurang fleksibel secara taktik, meski ia menganggapnya sebagai bentuk konsistensi terhadap filosofi bermain.
Langkah berikutnya ke Strasbourg dinilai sebagai keputusan cerdas. Selain memberinya pengalaman melatih di luar Inggris, klub Ligue 1 itu berada dalam satu kepemilikan dengan Chelsea melalui BlueCo. Di sana, Rosenior tetap setia pada prinsip: memberi kepercayaan besar kepada pemain muda dan memainkan sepak bola progresif—sesuatu yang dinilai cocok dengan karakter skuad Chelsea saat ini.
Namun, fakta bahwa Rosenior adalah fans Manchester United tetap menjadi sorotan tersendiri. Melatih Chelsea dengan latar belakang kecintaan pada rival klasik tentu akan menjadi ujian mental yang unik. Tekanan besar, ego pemain, serta tuntutan meraih trofi adalah tantangan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Sejarah pelatih Inggris di Chelsea juga tak sepenuhnya manis. Kasus Graham Potter menjadi peringatan bahwa reputasi dan ide besar tak selalu berjalan mulus di Stamford Bridge.
Meski demikian, Rosenior dikenal sebagai pribadi yang percaya diri dan tak gentar menghadapi tantangan. Pidato-pidato motivasionalnya di ruang ganti yang beredar di media sosial menunjukkan keyakinan kuat terhadap ide dan kemampuannya sendiri.
Jika benar ditunjuk, satu hal yang akan menentukan sukses atau tidaknya Liam Rosenior di Chelsea adalah trofi. Ia belum pernah merasakan persaingan gelar di level tertinggi. Namun bagi seorang penggemar Manchester United yang tumbuh dengan standar tinggi ala Sir Alex Ferguson, tantangan besar justru bisa menjadi panggung pembuktian.