JAKARTA, iNews.id - Teknologi air purifier dapat membantu menekan risiko pneumonia pada anak di tengah meningkatnya kasus penyakit ini di Indonesia. Tercatat penderita pneumonia di Indonesia melonjak dari 330 kasus pada 2023, menjadi 1.278 kasus pada 2024.
Memasuki 2025–2026, pneumonia masih menjadi ancaman serius bagi balita. Penyakit ini bahkan kerap dijuluki sebagai “pembunuh senyap” karena gejalanya yang bisa berkembang cepat tanpa disadari.
Diketahui, pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang menyebabkan kantung udara terisi cairan, sehingga penderitanya mengalami kesulitan bernapas. Kondisi ini rentan terjadi pada anak karena sistem imun mereka belum berkembang sempurna.
Selain itu, pneumonia juga bisa terjadi berulang jika anak terus terpapar polusi udara, terutama di dalam ruangan. Paparan debu halus (PM2.5), asap rokok, hingga bakteri di udara menjadi faktor yang memperbesar risiko infeksi.
Data menunjukkan, polusi udara dalam ruangan berkontribusi hingga 60 persen terhadap risiko kematian akibat pneumonia pada anak. Hal ini membuat kualitas udara di rumah menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.