Dalam diskusi Risk Awareness Series 2026 bertema 'AI Ethics and Cyber Threats of Unethical AI', Director of Information Technology PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Formula, juga menyoroti pentingnya kontrol, keterlibatan fungsi risiko dan kepatuhan, serta perlindungan data dalam penerapan AI.
Sementara Founder & Chief Executive Officer Privy, Marshall Pribadi, menyoroti tantangan lain yang muncul seiring perkembangan AI, yakni semakin pentingnya memastikan keaslian identitas, suara, video, hingga dokumen.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa AI membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi dapat membantu perusahaan mengolah informasi dan meningkatkan efisiensi. Di sisi lain, penggunaan AI membutuhkan pengamanan dan tata kelola agar teknologi tidak menimbulkan risiko baru.
Selain membantu analisis klaim, teknologi AI juga mulai digunakan untuk mendukung layanan nasabah. Salah satunya melalui chatbot berbasis AI yang dapat membantu memberikan informasi mengenai manfaat dan layanan produk.
Sementara untuk kebutuhan administrasi, layanan digital memungkinkan nasabah mengakses informasi polis, memantau status klaim, hingga melakukan sejumlah transaksi secara mandiri.
Pada akhirnya, perkembangan AI di industri asuransi bukan hanya tentang menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual. Teknologi tersebut lebih banyak diarahkan untuk membantu manusia mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, dan mempercepat proses yang membutuhkan analisis.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar seberapa canggih AI yang digunakan, melainkan bagaimana teknologi tersebut diterapkan secara aman, transparan, dan tetap berada dalam pengawasan manusia.