Ratna mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi mengurangi orisinalitas sebuah karya. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan baru di era digital, terutama bagi mahasiswa yang tengah belajar membangun identitas kreatif mereka.
“Namun ketika tantangan kita yang harus kita pikirkan lagi sekarang adalah ketika para konten kreator itu tergantung kepada AI, maka itu menjadi tantangan kita. Karena harapannya adalah tidak boleh adanya ketergantungan. Sehingga nantinya itu akan memberikan ide atau gagasan yang otentik,” ujarnya.
Menurut dia, hadirnya AI harus disikapi dengan peningkatan literasi digital dan edukasi penggunaan teknologi secara bijak. Konten kreator perlu memahami bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Ratna menegaskan bahwa kreativitas, ide, dan sudut pandang personal tetap menjadi nilai utama dalam sebuah karya konten. Karena itu, AI sebaiknya digunakan hanya untuk mendukung proses kreatif, bukan menjadi sumber utama gagasan.
“Tantangan buat kita semua dalam menghadapi masuknya teknologi yang luar biasa seperti itu. Kemudian kalau implikasinya seperti apa? Implikasinya adalah perlunya literasi-literasi yang kita bisa menggunakan itu secara tepat, artinya secara bijak hanya sebagai asisten saja, jangan digunakan sebagai main brain kita,” tuturnya.