Terakhir, lanjut Adi data pengguna akan tetap menjadi komoditi yang paling diincar. Hal tersebut menjadi tantangan untuk penyedia layanan untuk meningkatkan sistem keamanannya.
"Kecendrungan ini akan meningkat ,bagaimana penyelenggara sistem elektronik harus terus bisa memaknai ini untuk pengamanan data. Sehingga data tidak diamankan saja saat ditransmisikan tetapi juga saat disimpan harus diamankan sehingga ketika ada kebocoran syukur-syukur terenkripsi sehingga tidak bisa diekspos oleh peretas," katanya.
Sebelumnya Adi mengungkapkan anomali trafik yang dideteksi oleh pihaknya menunjukkan hasil yang mencengangkan pada 2020. Di mana serangan siber meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun 2019 yakni mencapai angka 495.337.202 di tahun tersebut. Adapun beberapa serangan siber yang paling sering ditemukan yakni malware dan trojan.