Nezar menilai kolaborasi antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memerangi kejahatan digital yang kian masif.
"Ini menunjukkan kekuatan kerja sama semua pihak. Tujuan kita sama, memastikan ruang digital Indonesia tetap aman, produktif, dan bisa menjadi ruang untuk tumbuh," tegas dia.
Berdasarkan perhitungan operator, sistem perlindungan tersebut mampu mencegah potensi kerugian finansial pelanggan hingga sekitar 500 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp8 triliun. Angka ini sekaligus menegaskan bahwa penipuan digital bukan lagi ancaman sepele, melainkan sudah berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga.
Ke depan, pemerintah berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan industri telekomunikasi agar sistem anti spam dan anti scam dapat diterapkan lebih merata dan menjadi standar nasional.
"Kami membutuhkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan, khususnya sektor swasta, untuk berkontribusi menciptakan ekosistem digital yang aman, nyaman, dan produktif bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Nezar.