Ucup juga mengingatkan pentingnya memahami sudut pandang penonton sebelum membuat konten. Kreator perlu menempatkan diri sebagai audiens agar bisa mengetahui jenis tayangan yang menarik perhatian.
“Jadi TikTok atau short video kan, orang kalau nonton video kan langsung scroll. Scroll kalau gak menarik, scroll. Jadi tipsnya mungkin salah satu itu. Kita mau bikin konten, jadi kita menempatkan diri kita menjadi penonton dulu,” tambah dia.
Sementara itu, Yusuf Adhitya Putratama menilai kreator pemula tidak perlu terlalu terobsesi pada angka penonton atau jumlah viewers setelah mengunggah konten. Menurut dia, kebiasaan terus memantau performa konten justru membuat mental kreator cepat lelah.
Yusuf mengaku dirinya pernah menerapkan prinsip sederhana saat mulai menjadi kreator, yakni “posting, lupakan, lalu berserah diri”.
“Makanya setelah posting, lupakan, kemudian berserah diri, hasilnya itu bukan ranah kita. Nah hasil itu pasti ranah dari Tuhan yang menguasai,” tutur Yusuf.
Melalui sesi Creatorverse tersebut, para mahasiswa diajak memahami bahwa menjadi kreator konten bukan hanya soal viral atau FYP semata, tetapi juga tentang konsistensi, kreativitas, dan kemampuan memahami audiens di tengah persaingan media sosial yang semakin ketat.