Pedoman teknis remote robotic-assisted surgery merekomendasikan adanya mekanisme keselamatan untuk melindungi pasien ketika terjadi gangguan atau kegagalan sistem. Sistem juga perlu mampu mendeteksi kondisi koneksi, memberi peringatan, dan menangani terputusnya sesi komunikasi secara aman.
Jadi, ketika koneksi mengalami masalah, persoalannya bukan sekadar dokter kehilangan gambar di layar. Sistem harus memastikan perintah terakhir tidak berubah menjadi gerakan yang membahayakan pasien.
Koneksi yang benar-benar terputus bukan satu-satunya masalah. Penurunan kualitas jaringan secara bertahap juga dapat menjadi risiko. Misalnya, gambar dari kamera operasi terlambat, kualitas video menurun, atau perintah dokter membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima robot.
Kondisi tersebut berkaitan dengan latency. Dalam telesurgery, jeda transmisi dapat memengaruhi koordinasi antara gerakan dokter, tampilan visual, dan respons instrumen. Kajian mengenai telesurgery menyebut latensi sebagai salah satu tantangan utama yang harus dikendalikan untuk menjaga presisi dan keselamatan tindakan.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa jaringan dengan kondisi yang tidak optimal dapat menyebabkan penurunan kualitas video akibat packet loss, yang pada akhirnya dapat memengaruhi performa dokter saat menjalankan tugas robotik.