BOGOR, iNews.id - Daging analog hasil cetak tiga dimensi (3D) mulai dijual di sejumlah supermarket di Amerika Serikat (AS). Produk berbahan nabati ini dapat dibuat lebih lunak bagi lansia yang kesulitan mengunyah, dengan kandungan gizi yang bisa disesuaikan, menurut Ahli Teknologi PanganIPB University, Prof. Eko Hari Purnomo.
“Teknologi 3D food printing memungkinkan bahan pangan dicetak secara berlapis menggunakan formulasi tertentu sehingga dapat menghasilkan bentuk dan struktur produk sesuai desain yang diinginkan,” ucapnya.
Selain menjadi alternatif bagi vegetarian atau mereka yang ingin mengurangi konsumsi daging, teknologi ini membuka peluang pengembangan produk dengan kandungan gizi sesuai kebutuhan (personalized nutrition). Misalnya, kandungan protein, lemak, serat, atau mikronutrien tertentu dapat disesuaikan. Teksturnya juga dapat diatur agar lebih lunak dan mudah dikunyah bagi lansia, serta berpotensi dikembangkan untuk individu yang kesulitan menelan.
“Fleksibilitas dalam mengatur bentuk, komposisi, dan struktur internal produk merupakan salah satu keunggulan 3D printing dibandingkan teknologi pengolahan pangan konvensional,” tegasnya.
Belum Tentu Lebih Murah
Meski begitu, Prof. Eko mengatakan bahan baku nabati yang relatif lebih murah tidak serta-merta membuat produk akhir menjadi lebih ekonomis. Investasi peralatan, biaya formulasi, kecepatan pencetakan, dan kapasitas produksi dapat meningkatkan biaya sehingga peningkatan skala dan efisiensi menjadi tantangan.