Penemuan spesies baru ini tidak hanya didasarkan pada perbedaan bentuk fisik. Tim peneliti melakukan pendekatan ilmiah yang lebih komprehensif melalui analisis morfologi, bioakustik, dan filogenetik molekuler.
Dari sisi bioakustik, katak ini memiliki ciri yang sangat khas. Panggilan suaranya terdiri atas tiga nada berbeda, karakter yang menjadi pembeda utama dibandingkan spesies lain dalam genus Philautus.
Sementara itu, analisis filogenetik molekuler menunjukkan adanya perbedaan genetik yang konsisten. Temuan tersebut memperkuat bahwa populasi katak di Gunung Merapi merupakan spesies baru yang berbeda secara evolusioner dari kerabat dekatnya.
Secara morfologi, Philautus candrageni memiliki ukuran tubuh relatif kecil, sekitar 1,9 hingga 2,2 sentimeter. Katak ini memiliki moncong yang lebih sempit dibandingkan spesies sejenis di Pulau Jawa, kulit yang halus, serta tungkai belakang yang relatif lebih panjang.
Menariknya, hingga saat ini spesies tersebut hanya ditemukan di kawasan Gunung Merapi. Seluruh spesimen yang berhasil didokumentasikan berasal dari zona ketinggian menengah gunung dan hidup di area perkebunan, terutama kebun kopi serta lahan budidaya lainnya.