Hyundai menargetkan Atlas mulai diterapkan di lini produksi seperti pengurutan komponen pada 2028, sebelum akhirnya merakit bagian industri secara penuh pada 2030. Produksi massalnya diproyeksikan mencapai 30.000 unit per tahun.
Dalam presentasinya, Hyundai memperkenalkan konsep Physical AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang memungkinkan robot mengamati lingkungan nyata, mengolah data, lalu mengambil keputusan secara mandiri. Teknologi ini membuat robot terus belajar dari pengalaman langsung di lapangan, mulai dari pabrik hingga rantai logistik.
Data yang dikumpulkan robot akan dianalisis oleh AI, kemudian diterapkan kembali untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi. Dengan siklus ini, robot tak hanya bekerja, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
Hyundai juga memperkenalkan skema Robotics-as-a-Service (RaaS), di mana perusahaan bisa menggunakan robot melalui sistem berlangganan tanpa harus membeli unit secara langsung. Model ini mencakup perawatan rutin dan pembaruan perangkat lunak otomatis, serta telah digunakan oleh perusahaan global, seperti DHL, Nestle, dan Maersk.
Untuk mewujudkan ambisinya, Hyundai menyiapkan investasi jumbo senilai 125,2 triliun won di Korea Selatan mulai 2026, serta tambahan 26 miliar dolar AS untuk pengembangan pusat manufaktur robotika di Amerika Serikat (AS).