SAN FRANCISCO, iNews.id - Semakin kurang tidur, ternyata manusia akan peka terhadap rasa sakit. Temuan ini diungkapkan oleh ilmuwan dari UC Berkeley dalam sebuah studi belum lama ini.
Penulis senior dan profesor neuroscience and psychology Matthew Walker mengatakan, sulit tidur yang kronis merusak kemampuan otak menghilangkan perasaan secara alami. Karena kurang tidur menempatkan otak dan reseptornya dalam keadaan seperti mabuk, respons organik untuk menghilangkan rasa sakit melemah dan membuat seluruh tubuh merasakannya.
Dalam pembuluh darah yang sama, badan juga menjadi lebih mudah dipicu oleh kejadian menyakitkan. Walker dan mahasiswa Ph.D Adam Krause menguji teori mereka dengan menerapkan berbagai tingkat panas pada kaki 24 orang dewasa muda yang sehat sembari mengamati aktivitas otak mereka.
Melalui latihan ini, mereka mengamati mekanisme saraf pada otak yang kurang tidur merespons lebih lambat terhadap rasa sakit. Sebaliknya, mereka yang tidur cukup merangsang respons analgesik mereka dengan cepat dan mampu bereaksi lebih sedikit terhadap peningkatan panas, sebagaimana dikutip dari IBTimes, Jumat (1/2/2019).
Selain pusat analgesik, studi yang sama juga menemukan insula, yang mengevaluasi dan memproses sinyal nyeri juga terpengaruh. Krause mencatat, sistem ini sangat penting dalam penilaian sinyal rasa sakit karena memicu obat penghilang rasa sakit alami tubuh untuk merespons.
American Academy of Sleep Medicine menyatakan, orang dewasa berusia 18-60 tahun seharusnya tidur tujuh jam per hari untuk mencapai kondisi yang optimal. Orang yang tidur kurang dari tujuh jam sedikit berisiko mengalami gangguan kronis seperti stres, diabetes, obesitas, stroke, dan tekanan darah tinggi.