Sekolah yang didirikan Tan sangat populer, sehingga banyak permintaan dari berbagai kota untuk membuka sekolah serupa. Termasuk di Bandung, Jawa Barat, yang membuatnya ditangkap Belanda, 13 Februari 1922.
“Ketika itu saya lihat hampir semua murid menangis, orangtua mereka pun menangis. Saya tidak bisa lagi melanjutkan pidato. Saya merasa betapa tidak cukup kata-kata untuk menggambarkan topan dan badai yang menguasai diri saya,” tulis Tan Malaka tentang penangkapan yang dilanjutkan pembuangan ke Belanda dalam bukunya yang terbit di Berlin, Jerman pada 1922, ‘Toendoek kepada Kekoesaan, tetapi Tidak Toendoek kepada Kebenaran’.
Selain Tan yang dari gedung ini memimpin pemogokan umum selama berhari-hari sehingga melumpuhkan perekonomian kolonial Belanda pada 1922, Soekarno, Hatta, serta Sjahrir pun pernah menginjakkan kaki di sini pada 1930-an. Dari atas mimbar dalam bangunan tua ini, Bung Karno sempat berpidato dengan berapi-api saat memimpin rapat Partai Indonesia (Partindo).
“Kolonial memang kuat. Siapa yang kuat itulah yang menang. Tetapi yang menang belum tentu yang benar. Kita anak jajahan dipandang kalah. Tetapi yang kalah belum tentu yang salah. Bangsa Indonesia akan duduk di atas singgasana kemerdekaan.” Sedangkan dalam pertempuran lima hari (15-20 Oktober 1945) di Semarang, Gedung Sarekat Islam digunakan sebagai Pos Palang Merah.​