Mengenal keunikan Suku Polahi di Gorontalo (Foto: Instagram @Adhywinata)
Novie Fauziah

JAKARTA, iNews.id - Budaya dan adat istiadat di berbagai daerah di Indonesia selalu menarik untuk diketahui. Salah satunya budaya yang ada di Gorontalo.

Gorontalo memiliki keunikan dalam potensi wisata. Tak hanya itu saja, di kota ini juga terdapat kelompok yang disebut Suku Polahi, salah satu suku cukup terasing di Indonesia dan tinggal di pedalaman hutan.

Penasaran, seperti apa budaya yang dimiliki Suku Polahi? Berikut ulasannya dirangkum pada Sabtu (27/8/2022).

Perlu diketahui, tempat tinggal Suku Polahi berada di Lereng Gunung Boliyohuto, Desa Tamaila Utara, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo. Menariknya, suku ini memiliki tradisi yang tidak lazim, yaitu menikah dengan sedarah.

Kata Polahi berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu lahi-lahi yang artinya pelatrian. Konon sejak abad ke-17 atau pada masa penjajahan oleh Belanda, masyarakat Suku Polahi memilih untuk mengasingkan diri.

Alasan mengapa suku saat itu memilih mengasingkan diri ke hutan, lantaran mereka menolak keras untuk tunduk pada peraturan serta penindasan yang dilakukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sejak itulah anggota suku ini hidup nomaden atau berpindah-pindah di dalam hutan.

Mereka menerapkan kehidupan nomaden, Suku Polahi tak membuat bangunan tempat tinggal yang permanen. Tempat tinggal dibuat seadanya dari kayu atau bahan yang tersedia di alam. Lalu, untuk bertahan hidup, seperti berburu hingga membuat lahan dan mengonsumsi labiya atau sagu sebagai bahan makanan utamanya.

Lebih lanjut, tradisi yang dilakukan Suku Polahi ini menuai kontroversial karena mereka memilih untuk menikah dengan saudara sedarah. Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, pernikahan sedarah merupakan hal yang tabu. Bahkan, hampir semua agama melarang adanya perkawinan tersebut.

Tak hanya pandangan agama saja, menurut penjelasan medis pun pernikahan sedarah sebaiknya dihindari. Sebab, nantinya ini akan berpengaruh terhadap genetik anak yang akan lahir.

Ines atau pernikahan sedarah, anak hasil hubungan sedarah akan memiliki keragaman genetik yang sangat minim dari DNA-nya. Kurangnya variasi dari DNA dapat meningkatkan peluang terjadinya penyakit genetik langka.

Kemudian, hal ini juga bisa membuat sistem kekebalan tubuh anak lemah. Pada pembentukan sistem kekebalan tubuh, ada komponen penting dalam DNA yang disebut Major Histocompatibility Complex (MHC). MHC terdiri dari sekelompok gen yang bertugas sebagai penangkal penyakit.

Hal-hal yang dikhawatirkan dalam pernikahan sedarah ini adalah anak mengalami cacat fisik atau mental. Akan tetapi bagi Suku Polahi perkawinan antara anak gadis dan ayahnya, ibu dan anak laki-lakinya, bahkan adik kakak adalah hal wajar. Tak hanya itu saja, anak-anak yang dilahirkan pun terlahir normal.

Kini, kehidupan Suku Polahi sudah mulai membuka diri dan berbaur dengan masyarakat lain pada umumnya. Mereka bersosialisasi dengan cara berdagang hasil panennya, baik di pasar atau di tempat-tempat keramaian lainnya.



Editor : Vien Dimyati

BERITA TERKAIT