Semarang menjadi latar yang pas. Kota ini berada di tengah Pulau Jawa, dekat dengan jalur-jalur budaya menuju Yogyakarta, Borobudur, dan Surakarta. Namun lebih dari itu, Semarang memiliki identitasnya sendiri, berlapis, tidak selalu rapi, tapi kaya makna. Karakter inilah yang terasa selaras dengan pendekatan KoenoKoeni yang tidak berusaha tampil mencolok.
"Bagi kami, benda antik bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk dikenali dan dimaknai. Di dalamnya tersimpan nilai, keterampilan, dan cerita lintas generasi," ujar manajemen KoenoKoeni Hotel Semarang dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
"Melalui KoenoKoeni Hotel Semarang, kami ingin menghadirkan ruang di mana para tamu dapat merasa dekat dengan masa lalu dan membawa pulang pengalaman yang berkesan," tambahnya.
Ya, di sini benda-benda lama tidak diposisikan sebagai nostalgia kosong. Mereka hadir sebagai pengingat bahwa waktu pernah berjalan di tempat yang sama, dengan tangan-tangan berbeda. KoenoKoeni mencoba menghadirkan pengalaman menginap yang bukan sekadar soal tidur nyaman, melainkan tentang merasakan kedekatan dengan cerita yang pernah ada.
Menjelang pembukaannya pada kuartal ketiga 2026, KoenoKoeni Hotel Semarang tampak seperti ruang singgah bagi mereka yang ingin menikmati perjalanan dengan tempo lebih lambat. Sebuah tempat untuk berhenti, mengamati, dan mungkin membawa pulang sedikit rasa tentang Semarang yang tak selalu terlihat di permukaan.