Temuan prasasti lainnya yaitu prasasti Ratu Boko A dan B (856 Masehi) dan C semua mengandung keterangan tentang pendirian lingga yaitu Lingga Krrtivasa, Lingga Tryambaka, dan Linggahara.
Pada 856 Masehi, Situs Ratu Boko difungsikan sebagai keraton oleh seorang penguasa beragama Hindu yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila unsur agama Hindu dan Buddha tampak pada kompleks bangunan ini. Unsur Hindu dapat ditunjukkan melalui yoni, tiga miniatur candi, arca Ganesha dan Durga, serta lempengan emas dan perak bertuliskan mantra agama Hindu. Sedangkan unsur Buddha terlihat dari adanya arca Buddha, reruntuhan stupa, dan stupika.
Legenda Raja Raksasa
Sejarah peninggalan zaman kerajaan selalu menarik untuk diketahui. Termasuk dengan legenda yang tersimpan. Ratu Boko juga memiliki legenda yang terkenal yaitu kisah raksasa pemakan manusia.
Sesuai dengan namanya, nama Ratu Boko pada candi ini diambil dari kisah legenda masyarakat di sekitar terkait Prabu Boko yang merupakan ayah dari Putri Roro Jonggrang. Dikisahkan, Prabu Boko adalah sosok raksasa pemakan manusia. Setiap hari para prajuritnya diutus untuk mencari manusia sebagai santapan. Jika prajurit gagal, maka gantinya dia yang akan dilahap oleh Prabu Boko.
Teror tersebut membuat banyak penduduk yang merasa sangat ketakutan dan mencari perlindungan ke kerajaan tetangga yang penguasanya murah hati. Raja mengutus putranya yaitu Bandung Bondowoso untuk membunuh Prabu Boko yang kejam. Akhirnya Prabu Boko kalah di tangan Bandung Bondowoso.