Lebih lanjut Vinsensius menjelaskan, program sertifikasi CHSE nantinya akan diberlakukan secara nasional di 34 provinsi Indonesia. Kemenparekraf menargetkan 8.000 usaha pariwisata telah mendapatkan sertifikasi tersebut di tahun 2020.
Jumlahnya akan terus bertambah karena program ini dinilai memiliki sejumlah manfaat, baik jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Salah satunya menyelaraskan strategi-strategi pengembangan destinasi wisata seiring berubahnya perilaku wisatawan.
Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, perilaku wisatawan memang dilaporkan mengalami perubahan. Di masa pandemi Covid-19, wisatawan cenderung memilih destinasi-destinasi yang menerapkan protokol kesehatan sangat ketat.
Kesehatan, keselamatan dan keamanan kini menjadi kunci dari kesuksesan pariwisata. Itulah sebabnya Kemenparekraf melakukan re-strategi dari konsep mass tourism menjadi quality tourism (wisata berkualitas), dan program sertifikasi CHSE menjadi ujung tombaknya.
"Orang-orang nantinya akan searching tempat yang sudah menerapkan protokol kesehatan. Gambaran tentang protokol kesehatan ini akan sangat membantu industri pariwisata untuk bangkit kembali keterpurukan. Jadi harus selalu kita gaungkan," kata Vinsensius.
Lantas, seberapa besar pengaruh sertifikasi CHSE bagi keberlangsungan pariwisata Indonesia? Vinsensius mengatakan, program CHSE tak hanya menerapkan standar berskala nasional, tetapi juga global.