Pertama, First Wave Coffee. Gelombang perkopian pertama dimulai pada 1800-an, di mana kopi disajikan dalam kemasan praktis dan instan. Bahkan, pada Perang Dunia I (1917), tentara disajikan kopi sebagai minuman rutin setiap hari.
Kedua, Second Wave Coffee. Berbeda dari gelombang pertama, citarasa kopi kemasan dianggap kurang nikmat. Para pecinta kopi garis keras menginginkan lebih dari yang bisa mereka minum. Pada 1960-an, muncul berbagai varian kopi baru, seperti espresso, cappuccino, latte, mochaccino, frappuccino, americano, dan lainnya.
Pada era ini, mulai menjamur coffee shop tematik yang lebih nyaman dan modern. Sembari menyeruput kopi, mereka bisa mengobrol santai hingga berdiskusi dengan kolega bisnis.
Ketiga, Third Wave Coffee. Demam kopi hadir pada 2000-an. Di era itu masyarakat sudah menyadari ada perjalanan panjang dari sajian secangkir kopi. Mulai dari proses tanam, pengolahan biji, hingga penyajian. Dari sini muncul istilah origin untuk menyebut identitas kopi sesuai lokasi di tanamnya. Sebab, rasa kopi akan terasa berbeda jika ditanam di wilayah tertentu.
Di Indonesia ada beberapa daerah penghasil kopi yang legendaris dan sudah terkenal, antara lain Mandailing (Sumatera Utara), Kintamani (Bali), Dataran Tinggi Gayo (Aceh), Preanger (Jawa Barat), dan lainnya.