“Tahu kan wedang ronde ada bulat-bulatnya, makanya kita bikinnya bulat-bulat dan pakai si kuahnya wedang ronde ini. Jadi kita fusion antara Indonesia dan Koreanya,” ujar Livia.
Kreasi tersebut menjadi upaya timnya menyatukan karakter kuliner Korea dan Indonesia dalam satu sajian. Selain mengutamakan tampilan, mereka juga berusaha mempertahankan ciri khas bahan dan cita rasa dari kedua hidangan tradisional tersebut.
Bagi Livia, mengikuti kompetisi ini bukan sekadar kesempatan untuk menunjukkan kreativitas, tetapi juga menambah pengalaman di dunia kuliner. Dia mengaku lebih menyukai bidang pastry dan bakery dibandingkan kegiatan memasak secara umum.
Ketertarikan itu juga berkaitan dengan latar belakang pendidikannya di bidang perhotelan. Livia diketahui menempuh pendidikan Business Hotel Management di Binus Bekasi.
“Kebetulan aku kuliah di perhotelan ya, Business Hotel Management di Binus Bekasi, makanya aku tertarik mengikuti seperti hal-hal seperti ini, sama teman aku juga,” ucapnya.