Dicekoki Miras, Siswi SMP Diperkosa dan Digilir 5 Pria di Surabaya

Sony Hermawan, Ihya' Ulumuddin ยท Selasa, 23 April 2019 - 10:32 WIB
Dicekoki Miras, Siswi SMP Diperkosa dan Digilir 5 Pria di Surabaya

Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yenni saat memberi keterangan pers, Selasa (23/4/2019). (Foto: iNews/Sony Hermawan)

SURABAYA, iNews.id – Peristiwa kelam dialami siswi SMP salah satu sekolah di Kota Surabaya, Jawa Timur. Gadis 14 tahun itu diperkosa lima pria secara bergiliran di kamar kos dalam kondisi pengaruh minuman keras (miras).

Informasi yang dirangkum iNews, kasus asusila ini bermula saat korban diajak membolos salah satu tersangka untuk bermain di rumah kos pelaku lain. Saat di kamar kos, rupanya telah ada empat pelaku lain yang sudah menunggu. Satu di antaranya merupakan teman sekolah korban.

Selanjutnya para pelaku mengajak korban untuk menenggak miras. Korban dicekoki hingga mabuk. Setelah tak sadarkan diri, kelima pelaku leluasa melampiaskan nafsu liarnya. Mereka pun menggagahi korban secara bergiliran.

BACA JUGA: Kecanduan Film Porno, Bocah SD Perkosa Siswi SMA hingga Hamil

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yenni mengatakan, kasus pemerkosaan ini terbongkar setelah orang tua korban membuat laporan polisi. Laporan dibuat setelah korban menangis dan mengaku telah digagahi lima orang secara bergiliran.

“Para pelaku merupakan teman korban. Dua di antaranya satu sekolah, mereka masih di bawah umur,” katanya, Selasa (23/4/2019).

Setelah menerima laporan, polisi langsung menangkap tiga dari lima terduga pelaku. Masing-masing Rendy Febrianto (26) warga Simorejo Surabaya, serta dua teman sekolah korban, MS dan AP. Sementara dua pelaku lain masih buron.

Pelaku Rendy telah dijebloskan ke tahanan, sedangkan MS dan AP dititipkan di Lembaga Khusus Anak (LPKA). Mereka dijerat Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Kepada polisi, Rendy mengaku tega menyetubuhi korban lantaran kerap menonton video porno yang tersimpan di ponselnya. Pemuda pengangguran ini mengaku khilaf dan memohon ampun.


Editor : Donald Karouw