102 Pesawat Menganggur di Bandara Soekarno-Hatta akibat Covid-19

Antara ยท Kamis, 16 Juli 2020 - 22:09:00 WIB
102 Pesawat Menganggur di Bandara Soekarno-Hatta akibat Covid-19
AP II mengungkapkan sebanyak 102 pesawat menganggur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - PT Angkasa Pura II (AP II) mengungkapkan sebanyak 102 pesawat menganggur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Pesawat tersebut tidak dioperasikan akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020.

“Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta saja, ada 102 pesawat yang di-grounded (tidak dioperasikan),” ujar Direktur Utama AP II, Muhammad Awaluddin dalam diskusi daring, Kamis (26/7/2020).

Awaluddin menuturkan tidak dioperasikannya pesawat tersebut karena berbagai sebab, mulai dari merosotnya permintaan, perawatan (maintenance), serta persoalan dengan mitra masing-masing maskapai.

Dia menuturkan bila pesawat-pesawat tersebut kembali dioperasikan seiring era New Normal atau menurunnya kurva Covid-19, bukan hanya pergerakan penumpang yang bergerak naik, melainkan kargo mengingat pengangkutan mengikuti pesawat penumpang (diangkut di perut pesawat/aircraft belly).

“Kalau itu bisa bergerak cepat, kargo tadi juga ikut. Sebagian besar kargo menumpang di armada pesawat penumpang. Di Indonesia belum banyak ‘freighter’ kargo di udara,” katanya.

Berbeda dengan transportasi laut, lanjut dia, lebih banyak bergerak pengangkutan barang dibanding penumpang. “Sekarang masih sangat tinggi ketergantungan trafik manusia. Laut itu trafiknya kargo. Angkutan udara orang lebih memilih karena nyaman, cepat, mobilisasi begitu besar,” ujar Awaluddin.

Berdasarkan data AP II, pada 7 Mei-7 Juni 2020 volume angkutan kargo di 19 bandara perseroan diperkirakan sekitar 34 juta kilogram. Khusus Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 27 juta kilogram.

AP II saat ini memiliki dua perusahaan afiliasi yang bergerak di bisnis kargo, yaitu PT Angkasa Pura Kargo (kepemilikan saham 99,99 persen) dan PT Gapura Angkasa (kepemilikan mayoritas 46,26 persen).


Editor : Dani Dahwilani