Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Amazon PHK 14.000 Karyawan, 40 Persen Insinyur Terdampak
Advertisement . Scroll to see content

22 Tahun Merugi, Amazon Siap Cetak Keuntungan

Sabtu, 20 Januari 2018 - 16:28:00 WIB
22 Tahun Merugi, Amazon Siap Cetak Keuntungan
CEO Amazon Jeff Bezos
Advertisement . Scroll to see content

SEATTLE, iNews.id – Selama lebih dari dua dekade, Chief Executive Officer (CEO) Amazon Jeff Bezos mengorbankan keuntungan demi pertumbuhan bisnis untuk membawa Amazon menjadi Wal-Mart di dunia maya. Alhasil, tak ada keuntungan yang diperoleh meski perusahaan tersebut sudah go-public sejak 1997.

Baru-baru ini, investor Amazon bisa sedikit bernafas lega karena perusahaan mulai mencari keuntungan lewat bisnis jasa pelayanan komputasi awan sehingga bisa menutupi kerugian dari bisnis perdagangan elektronik (e-commerce). Tapi tetap saja, marjin laba Amazon dalam lima tahun terakhir hanya berada pada kisaran 1 persen saja.

Kini, Amazon ingin mencari keuntungan yang lebih konsisten dan berkesinambungan, yakni iklan. Saat Amazon mengumumkan bisnis jasa pelayanan komputasi awan, saham Amazon melewati rekor 1.300 dolar Amerika Serikat (AS) per lembar. Lewan iklan, para investor diyakini semakin senang karena tidak membutuhkan investasi besar seperti pusat data atau gudang, sehingga bisa memperoleh profit laba lebih gemuk.

Perusahaan sekuritas di bursa Wall Street BMO Capital Markets menaikkan target harga saham Amazon menjadi 1.600 dolar AS per lembar karena rencana baru ini. Bahkan, beberapa analis memproyeksikan saham Amazon bisa menembus 2.000 dolar AS per lembar sehingga berpotensi menjadi emiten pertama dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar 1 triliun dolar AS.

“Periklanan merupakan bisnis paling menguntungkan di dunia. Bagi Amazon, periklanan akan jauh lebih menguntungkan daripada bisnis komputasi awan,” kata Jay Kahn, partner di Light Street Capital seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (20/1/2018).

Prospek periklanan di AS pun terbilang bagus. Berdasarkan riset EMarketer Inc, pada 2021, iklan di website dan perangkat mobile akan melewati separuh dari seluruh porsi iklan di AS, atau lebih banyak daripada iklan televisi, radio, koran, dan media luar ruang disatukan.

Sejauh ini, sebagian besar iklan di dunia maya mengalir ke Google dan Facebook. Sementara Amazon hanya meraup 1,7 miliar dolar AS dari bisnis periklanan pada tahun lalu sementara Google dan Facebook masing-masing mendapat 35 miliar dolar AS dan 17,4 miliar dolar AS.

Amazon pun dianggap mampu berkompetisi dengan dua perusahaan raksasa tersebut. Pasalnya, Amazon memiliki platform iklan yang tidak dimiliki perusahaan lainnya yaitu toko web yang menjual ratusan juta produk plus layanan hiburan streaming dan data tentang preferensi pelanggan. Amazon juga tercatat memiliki 180 juta pengunjung dari AS setiap bulan dengan semua atau sebagian besar dari mereka memiliki pikiran untuk berbelanja.

Sejumlah perusahaan juga tertarik untuk beriklan di Amazon karena berbeda dengan Google yang berbasis mesin pencari dan Facebook yang berbasis media sosial, pengunjung Amazon memiliki preferensi yang lebih kuat untuk membeli. Selain itu, beriklan di Amazon juga memberikan insight secara real time dibandingkan beriklan di media tradisional seperti TV atau kupon.

“Perusahaan grosir juga tengah memindahkan anggaran iklan mereka tidak ingin kehilangan pelanggan dari Amazon,” kata Guru Hariharan, mantan eksekutif Amazon dan CEO Boomerang Commerce.

Berdasarkan data Cadent Consulting Group, produsen dan perusahaan grosir menghabiskan dana sekitar 225 juta dolar AS setiap tahun untuk iklan dan promosi di toko-toko.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut