Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kuasa Hukum soal Tudingan Ijazah Palsu: Jokowi Siap Lahir Batin Jalani Persidangan
Advertisement . Scroll to see content

3 Tahun Jokowi-JK, Apa Program Sektor ESDM untuk Pemerataan?

Senin, 23 Oktober 2017 - 15:49:00 WIB
3 Tahun Jokowi-JK, Apa Program Sektor ESDM untuk Pemerataan?
Wamen ESDM (Foto: Okezone)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA – Di tiga tahun kepemimpinan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berbagai perbaikan dilakukan untuk memajukan ekonomi demi terwujudnya tema pembangunan  tahun 2017, yakni pemerataan.

Di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), pemerintah menelurkan sejumlah program guna memajukan pembangunan, khusnya di kawasan timur Indonesia. Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar mengatakan, program yang selaras dalam tema pemerataan tahun ini, salah satunya adalah Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga.

Dia menegaskan, wilayah terpencil tidak lagi membeli BBM dengan harga hingga Rp100 ribu per liter, atau lebih tinggi dari harga normal Rp6.450 per liter untuk Premium dan Rp5.150 per liter untuk Solar.

“BBM satu harga kalau kita mau membawa negara ini kedalam energi berkeadilan maka negara harus hadir dalam hal pengentasan kemiskinan. Program BBM satu harga untuk mengatasi harga BBM di daerah yang bisa mencapai lebih dari Rp7.000  per liter. Di Papua misalnya (harga BBM) bisa mencapai Rp100 ribu per liter. Pemrintah hadir sehingga harga BBM bagi saudara-saudara  kita di daerah terpencil juga bisa menikmakti BBM dengan harga normal,” ucap Arcandra dalam keterangannya, di Kantor Staf Presiden, Istana Negara, Jakarta, Senin (23/10/2017)

Progress hingga saat ini, 26 lokasi telah selesai dilakukan pembangunan penyalur BBM satu harga. Target total pembangunan hingga 2019 yaitu 150 lokasi yang dibangun oleh PT Pertamina (Persero), dan tujuh lokasi dibangun oleh PT AKR. Adapun target penyelesaian tahun 2017 sebanyak 54 lokasi, selain lima target yang rencananya di bangun oleh PT AKR.

Program selanjutnya adalah penyediaan jaringan gas kota untuk rumah tangga yang harganya lebih murah dibanding elpiji. “Ide program ini seperti PDAM yang mengalirkan air ke rumah rumah. Jaringan gas kota juga mengalirkan gas ke rumah tangga dengan harga yang lebih murah dari LPG. Pemanfaatan jaringan gas kota akan mengurangi biaya rumah tangga sebesar Rp90 ribu per bulan per keluarga. Selain itu lebih praktis, bersih dan aman dibanding tabung LPG 3 kg,” kata Arcandra.

Program pemerataan lainnya adalah pemberian konverter kit LPG untuk nelayan (Konkit Nelayan) yang sebelumnya melaut dengan kapal yang menggunakan minyak solar atau bensin.  “Penggunaan konkit LPG untuk nelayan ini akan mengurangi biaya operasional nelayan sebesar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Tahun 2016 lalu telah dibagikan konkit nelayan sebanyak 5.473 unit, dan tahun 2017 ini ditargetkan sekitar 17 ribu unit,” tutur Arcandra.

Dalam menyediakan listrik untuk Indonesia, hingga saat ini rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai 93,08%. “Memang masih ada provinsi dengna rasio elektfikasi rendah seperti NTT dan Papua, tetapi kedepan hingga tahun 2019 ditargetkan rasio elektrifikasi nasional kita tingkatkan hingga lebih dari 97%. Upaya yang dilakukan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 Tahun 2016 yaitu percepatan elektrifikasi pedesaan dengan penyediaan listrik hingga 50 MW bagi desa belum berkembang, terpencil, perbatasan dan pulau kecil berpenduduk,” tutur Arcandra.

Upaya lainnya adalah program praelektrifikasi melalui penyediaan lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE) yang pada tahun 2017 ditargetkan bagi 80 ribu lebih rumah tangga, dan tahun 2018 sebanyak 175 ribu lebih rumah tangga. Program pembagian LTSHE difokuskan bagi desa belum berlistrik yang jumlahnya sekitar 2.500 desa. Kapasitas pembangkit listrik Indonesia saat ini sekitar 60 ribu MW. Kapasitas tersebut telah mengalami peningkatan sekitar 7 ribu MW dari kapasitas tahun 2014 sebesar 53 ribu MW.

Program selanjutnya adalah pemboran sumur untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat sulit air. Pada periode 2005-2016 telah dilakukan pemboran sumur sebanyak 1.545 sumur bor yang telah menyediakan air bersih bagi 4,4 juta jiwa. “Target tahun 2017 ini sebanyak 250 sumur bor yang akan kita selesaikan. Hingga saat ini capaiannya sekitar 47,8 persen,” tutur Arcandra.

Editor: Super Admin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut