Ahok Tolak Rencana IBC Akuisisi Perusahaan Mobil Listrik Jerman: Tidak Layak

Suparjo Ramalan ยท Jumat, 26 November 2021 - 13:19:00 WIB
Ahok Tolak Rencana IBC Akuisisi Perusahaan Mobil Listrik Jerman: Tidak Layak
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menolak renvana IBC akuisisi perusahaan mobil listrik Jerman. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak setuju dengan rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) mengakuisisi produsen mobil listrik asal Jerman, StreetScooter. 

Adapun akuisisi tersebut rencananya dilakukan oleh anak usaha IBC, Odin Automotive. Kendati demikian, Ahok menilai, proses pembelian saham StreetScooter tidak layak untuk membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

"Menurut saya tidak layak untuk bisa kembangkan ekosistem EV (Electric Vehicle)," kata Ahok saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jumat (26/11/2021). 

Menurutnya, IBC seharusnya memperkuat kerja sama dengan produsen asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai. Alasannya, Hyundai sudah memiliki pabrik mobil di Indonesia dan mulai memasarkan mobil listrik di dalam negeri. 

Selain Hyundai, opsi lainnya bisa menggaet Wuling Motors, produsen mobil asal China yang juga memiliki pabrik di Cikarang dan akan memproduksi mobil listrik murah di Indonesia. Atau dengan menggandeng Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang memproduksi mobil listrik untuk pasar UMKM. 

"Lebih baik dengan Hyundai dan lagi yang sudah kerja sama. Hyundai sudah ada di sini pabriknya dan mulai pasarkan mobil listrik. Juga ada Wuling dan juga ITS sudah ada jualan mobil listrik UMKM," ujarnya.

IBC sendiri merupakan perusahaan patungan dari empat BUMN. Mereka terdiri atas Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). 

Adapun komposisi saham masing-masing perusahaan dalam IBC sebesar 25 persen. Ahok menilai, Pertamina sebagai pemegang saham 25 persen masih melihat hasil due diligence dari rencana akuisisi itu. Namun, dia komitmen menolak aksi korporasi tersebut.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel: