BRI Cetak Laba Rp57,132 Triliun Sepanjang 2025, Komitmen Dukung Asta Cita Pemerintah
Jika dilihat dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA meningkat 331 bps YoY, didorong oleh pertumbuhan tabungan ritel yang konsisten. Secara konsolidasi, total DPK tumbuh 7,4% YoY menjadi Rp1.466,8 triliun, dengan pertumbuhan CASA mencapai 12,7% YoY. Kenaikan giro mencapai 19,7% YoY dan tabungan tumbuh 7,9% YoY, sehingga mendorong CASA ratio meningkat hingga 70,6%, menandakan biaya dana yang semakin efisien.
Dari sisi segmen, non-wholesale menjadi motor utama, terutama tabungan yang terus meningkat dan menopang stabilitas dana murah. Sementara itu, wholesale relatif stabil, dengan pergeseran komposisi ke giro yang tumbuh kuat, sementara deposito cenderung moderat. Secara keseluruhan, ini menunjukkan strategi BRI dalam memperkuat transaction-led relationships, menjaga likuiditas, dan meningkatkan kualitas pendanaan yang lebih berkelanjutan.
Kapasitas BRI untuk terus tumbuh secara sehat pun ditopang oleh likuiditas yang solid. Hal tersebut tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) bank yang berada di level yang ample sebesar 91,4%.
“Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga (pendanaan) yang optimal,” ujar Faridha Thamrin.
Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat di level 23,52%, di atas ketentuan minimum regulator. Posisi ini menunjukkan kapasitas permodalan BRI yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent, menyerap potensi risiko, serta menjaga stabilitas dan ketahanan perseroan. Dengan struktur permodalan yang kokoh, BRI masih memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di segmen UMKM dan pembiayaan produktif, sejalan dengan komitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Dari sisi kualitas aset, hingga akhir 2025 rasio NPL BRI terjaga di level 3,07%. Hal tersebut menjadi semakin relevan mengingat portofolio BRI yang mayoritas disalurkan ke segmen UMKM, yang secara karakteristik memiliki risiko lebih granular. Sehingga NPL yang rendah ini menunjukkan efektivitas strategi manajemen risiko yang solid dan penerapan prinsip kehati-hatian secara konsisten. Untuk menjaga kualitas kredit, BRI juga membentuk pencadangan yang memadai dengan NPL Coverage sebesar 178,1%.