Dana Asing yang Kabur Sudah Mencapai Rp127,91 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Michelle Natalia ยท Kamis, 11 Agustus 2022 - 20:53:00 WIB
 Dana Asing yang Kabur Sudah Mencapai Rp127,91 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani
Ilustrasi capital outflow. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Gejolak pasar keuangan global akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan suku bunga acuan di berbagai negara maju untuk mengendalikan inflasi membuat dana asing yang kabur (capital outflow) dari Indonesia tercatat mencapai Rp127,91 triliun per 10 Agustus 2022. 

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan volatilitas pasar keuangan global saat ini memang berdampak terhadap capital outflow dari emerging market, termasuk Indonesia. 

Volatilitas ini terutama terjadi pada pasar obligasi negara-negara berkembang dan memengaruhi gerakan cost of fund, meskipun di Indonesia capital inflow mulai terjadi sejak awal Agustus 2022. 

"Pasar obligasi emerging markets, termasuk Indonesia, nett outflow selama 2022. Tren outflow dari pasar obligasi Indonesia meningkat pasca  Federal Open Market Committee (FOMC) meeting Mei. Hingga 10 Agustus 2022, mengalami outflow Rp127,91 triliun atau sebesar USD8,6 miliar year-to-date," ungkap Sri Mulyani, dalam konferensi pers APBN KITA edisi Agustus 2022 di Jakarta, Kamis(11/8/2022). 

Pasca FOMC Meeting Juli, lanjutnya, terjadi sentimen positif karena kenaikan Fed Funds Rate  (FFR) dan growth Amerika Serikat (AS) yang sesuai ekspektasi. Pasar obligasi Indonesia sejak awal Agustus tercatat mengalami inflow Rp12,19 triliun month-to-date (mtd). 

"Portofolio investasi global masih overweight terhadap obligasi Indonesia," kata Sri Mulyani.

Dia mengatakan, perbankan dan Bank Indonesia (BI) masih mendominasi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN), sementara porsi kepemilikan asing menurun bertahap sejak akhir 2019 yang sebesar 38,57 persen menjadi 15,57 persen di 10 Agustus 2022.

"Fluktuasi capital flow perlu diwaspadai dan diantisipasi dampak pengaruh normalisasi kebijakan moneter global pada berkurangnya likuiditas yang mempengaruhi cost of fund," tutur Sri Mulyani.   

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda