Data Pelanggan Bocor, British Airways Didenda Rp380 Miliar

Djairan ยท Sabtu, 17 Oktober 2020 - 22:29 WIB
Data Pelanggan Bocor, British Airways Didenda Rp380 Miliar

Maskapai penerbangan utama Inggris, British Airways dijatuhi sanksi denda oleh Kantor Komisaris Informasi (ICO) sebesar 20 juta pound sterling (Rp380 miliar). (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Maskapai penerbangan utama Inggris, British Airways dijatuhi sanksi denda oleh Kantor Komisaris Informasi (ICO) sebesar 20 juta pound sterling (Rp380 miliar). Pasalnya, perusahaan itu gagal melindungi data lebih dari 400.000 pelanggan yang menjadi subjek serangan dunia maya.

Insiden peretasan itu terjadi pada 2018 silam, di mana data pribadi pelanggan dicuri termasuk informasi kartu kredit hingga rincian pemesanan perjalanan. ICO mengatakan, maskapai seharusnya dapat segera mengidentifikasi kelemahan dalam keamanannya, dan segera melakukan langkah darurat yang bisa mencegah pelanggaran data.

"Kegagalan dan kelalaian British Airways untuk bertindak cepat tidak dapat diterima, dan telah mempengaruhi keamanan data ratusan ribu orang, yang mungkin menyebabkan kecemasan dan gangguan sebagai akibatnya," ujar juru bicara ICO dikutip dari Reuters, Sabtu (17/10/2020).

Denda itu jauh lebih kecil dari 183,4 juta pound sterling yang diusulkan ICO 2019 lalu. ICO mengatakan, pihaknya mempertimbangkan kondisi British Airways yang tengah menghadapi krisis akibat Covid-19, yang telah menjungkirbalikkan industri penerbangan. Namun, itu masih merupakan penalti terbesar yang pernah dikenakan ICO hingga saat ini.

British Airways mengatakan, pihaknya segera memberitahu pelanggan setelah mengetahui peretasan itu. Namun, saat mengumumkan denda, ICO menyebut maskapai tidak segera mendeteksi serangan pada 22 Juni 2018, justru diberitahu oleh pihak ketiga lebih dari dua bulan kemudian, pada 5 September 2018.

"Itu dianggap gagal dalam bertindak yang seharusnya, sangat parah karena jumlah orang yang terkena dampak dan potensi kerugian finansial bisa lebih signifikan," kata ICO.

Insiden serupa juga terjadi, termasuk pada maskapai penerbangan lain yang terdaftar di London. Seperti yang dialami maskapai bertarif rendah, EasyJet, di mana pada awal tahun ini peretas telah mengakses email dan detail perjalanan sekitar 9 juta pelanggan.

Sedangkan operator hotel Amerika Serikat (AS), Marriott International pada awal tahun ini mengalami insiden yang sama untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua tahun. Pada Maret lalu, sekitar 5,2 juta informasi pribadi tamu hotelnya dicuri, dan sebanyak 500 data serupa di 2018.   

Editor : Ranto Rajagukguk