Dirut Garuda Geleng Kepala Tes PCR Lebih Mahal dari Tiket Pesawat

Antara ยท Selasa, 02 Juni 2020 - 21:53 WIB
Dirut Garuda Geleng Kepala Tes PCR Lebih Mahal dari Tiket Pesawat

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dibuat geleng kepala tes PCR lebih mahal dibandingkan tiket pesawat. (Foto: Ilustrasi/Sindonews))

JAKARTA, iNews.id - Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dibuat geleng kepala tes Polymerase Chain Reaction (PCR) lebih mahal dibandingkan tiket pesawat. Di mana calon penumpang wajib tes PCR untuk bisa terbang.

“PCR test yang Rp2,5 juta dan beberapa sudah menurunkan harganya, itu lebih mahal daripada biaya bepergian khususnya lokasi yang berdekatan, seperti Jakarta-Surabaya. Jadi, apalagi kalau bepergian tujuh hari yang berarti harus PCR dua kali dan biayanya harus Rp5 juta sementara perjalanan bolak balik hanya Rp1,5 juta,” kata Irfan, dalam webinar di Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Pasalnya, surat keterangan bebas COVID-19 yang dibuktikan tes PCR merupakan syarat wajib bagi calon penumpang untuk bisa melakukan penerbangan.

Untuk itu, Irfan mengatakan pihaknya harus mengkaji kembali harga tiket pesawat agar masyarakat masih mau membeli dan tidak terbebani mahalnya biaya tes PCR.

Selain itu, perusahaan wajib menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak antara penumpang dalam susunan tempat duduk di pesawat di mana mengurangi tingkat keterisian yang otomatis menurunkan pendapatan.

“Kalau physical distancing ini dipastikan dilakukan tentu kita harus review harga dari penerbangan tersebut,” katanya.

Irfan menambahkan di luar itu, proses pra-penerbangan juga semakin rumit dengan adanya pemeriksaan dokumen dan kesehatan.

“Artinya, ke depan industri ini akan menghadapi penurunan drastis penumpang. Adalah kepentingan bersama, bersama regulator untuk memastikan ini butuh waktu. Kami mendapatkan konsesus, industri ini bisa recovery sebelum COVID-19 dalam masa dua sampai tiga tahun,” katanya.

Irfan menyebutkan masyarakat yang sering melakukan penerbangan pun masih menunggu (wait and see) keadaan untuk kembali pulih.

“Situasi Covid ini juga membuka kita melihat peluang dengan memahami perilaku costumer. Kami lakukan riset kecil-kecilan terhadap kita punya GA Miles dan dari riset ini berkeinginan tetap pergi. Tapi yang mengagetkan 65 persen dari responden menyatakan posisinya wait and see,” katanya.

Editor : Dani Dahwilani