Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bank Dunia Proyeksi RI Defisit hingga 2027, Purbaya: Selama Ini Sering Meleset
Advertisement . Scroll to see content

Duh! BPJS Kesehatan Terancam Defisit Rp20 Triliun Sepanjang 2024

Senin, 11 November 2024 - 18:16:00 WIB
Duh! BPJS Kesehatan Terancam Defisit Rp20 Triliun Sepanjang 2024
BPJS Kesehatan terancam defisit Rp20 triliun di 2024. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - BPJS Kesehatan terancam mengalami defisit sekitar Rp20 triliun sepanjang tahun 2024. BPJS Kesehatan pun diramal akan gagal bayar klaim kepada peserta di 2025 mendatang.

Menurut Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti kondisi defisit ini terjadi karena klaim kesehatan yang dibayarkan kepada peserta lebih besar daripada premi yang terima dari para anggota JKN.

"Kalau tahun ini potensi defisit itu tidak banyak, kira kira Rp20 triliunan. Mungkin tidak ada gagal bayar sampai tahun 2026. Makanya mau disesuaikan (pembayaran iuran peserta) tahun 2025," ucap Ali di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Senin (11/11/2024).

Untuk itu, Ali mengajukan kepada Presiden Prabowo untuk menaikan iuran BPJS Kesehatan. Harapannya langkah ini bisa menekan defisit BPJS Kesehatan dan menghindari kondisi gagal bayar klaim.

Targetnya, pada pertengahan tahun 2025 telah disusun tarif baru iuran BPJS Kesehatan bagi para peserta JKN.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Mahlil Ruby menambahkan pada tahun 2024 peserta BPJS Kesehatan bertambah sekitar 30 juta baru. Pertambahan ini akhirnya membuat klaim yang dibayarkan juga ikut meningkat.

Di satu sisi, Mahlil menjelaskan dari peserta baru itu yang masih aktif menjadi peserta atau membayar premi secara rutin hanya sebanyak 7 juta. Menurutnya, kondisi premi yang stagnan ini disebabkan oleh kenaikan upah yang rendah, peserta aktif di dominasi kelas 3, hingga validasi data yang kurang tepat. 

Sedangkan peningkatan cost yang ditanggung BPJS Kesehatan bersumber dari peningkatan akses alias adanya tambahan faskes dan kapasitas, peningkatan kasus penyakit berbiaya mahal, peningkatan kelas RS, kunjungan RS didominasi oleh peserta penyakit kronis, hingga potensi fraud.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut