Go-Jek dan Astra Luncurkan Gofleet, Mitra Pengemudi Tidak Perlu Sediakan Mobil

Rahmat Fiansyah ยท Kamis, 18 Juli 2019 - 19:25 WIB
Go-Jek dan Astra Luncurkan Gofleet, Mitra Pengemudi Tidak Perlu Sediakan Mobil

Astra International dan Go-Jek meluncurkan Gofleet. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) dan PT Astra International Tbk mendirikan perusahaan patungan (joint venture). Perusahaan itu meluncurkan Gofleet.

Apa itu Gofleet? Fitur baru ini merupakan layanan angkutan sewa khusus bagi para mitra pengemudi. Selain disediakan mobil, layanan yang diberikan juga termasuk perawatan, perbaikan, asuransi, hingga monetisasi kendaraan melalui pemasangan iklan.

"Gofleet merupakan wujud nyata dari kemitraan strategis antara Astra dan Go-Jek yang dimulai sejak investasi kami di Go-Jek pada Februari 2018," kata Presiden Direktur Astra, Prijono Sugiarto, Kamis (18/7/2019).

CEO & Founder Go-Jek, Nadiem Makarim menambahkan, pembentukan Gofleet sejalan dengan visi Astra dan Go-Jek untuk terus berinovasi dan mendorong kesejahteraan bersama.

"Peluncuran Gofleet menjadi perwujudan kolaborasi dan perpaduan kekuatan dua karya anak bangsa terdepan untuk terus memajukan ekonomi digital Indonesia di mata dunia.” ucap dia.



Presiden Direktur Gofleet, Meliza M. Rusli menuturkan, kehadiran Gofleet bakal memberikan benefit bagi mitra pengemudi dan pelanggan jasa transportasi online. Pasalnya, kualitas mobil terjaga.

"Dengan bergabung bersama Gofleet, mitra driver dapat fokus memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan sementara perawatan dan perbaikan kendaraan akan dikelola oleh Gofleet," tutur dia.

Selain itu, kata Meliza, mitra pengemudi juga berpeluang memperoleh penghasilan tambahan dari media iklan yang dipasang kendaraan.

Gofleet akan mengoperasikan ribuan unit kendaraan secara bertahap di Jabodetabek, sebelum tersedia di kota-kota lain. Mitra pengemudi yang tertarik bisa mendaftar dan memenuhi syarat yang telah ditetapkan.

Meliza yakin dengan prospek Gofleet mengingat penetrasi ride-hailing dan layanan antar makanan secara online masih minim sekitar 2-3 persen dari populasi. Sementara di China sudah mencapai 14 persen.


Editor : Rahmat Fiansyah