Harga Minyak Mentah Melesat Imbas Ketegangan Timur Tengah dan Peningkatan Pasokan OPEC
JAKARTA, iNews.id - Harga minyak mentah dunia melesat pada perdagangan Selasa setelah merosot pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini karena pasar mempertimbangkan ketegangan di Timur Tengah dan meningkatnya pasokan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Mengutip Reuters, Minyak mentah berjangka Brent meningkat 17 sen atau 0,2 persen menjadi 76,29 dolar AS per barel. Lalu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik tipis 0,1 persen atau 5 sen menjadi 70,82 dolar AS per barel.
Sementara, harga minyak acuan telah turun masing-masing lebih dari 3 persen dan 4 persen pada perdagangan hari Senin imbas pemotongan harga yang tajam oleh eksportir utama Arab Saudi dan peningkatan produksi OPEC.
“Pemotongan harga yang tajam di Arab Saudi dan peningkatan produksi OPEC telah mengimbangi kekhawatiran pasokan yang disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar analis CMC Markets, Leon Li, Selasa (9/1/2024).
Harga Minyak Mentah Melesat dalam Sepekan Imbas Ketegangan di Timur Tengah
Mengenai perang di Gaza, militer Israel menyebut perjuangannya melawan Hamas akan berlangsung hingga tahun 2024. Hal ini mengkhawatirkan pasar bahwa konflik tersebut dapat berkembang menjadi krisis regional yang dapat mengganggu pasokan minyak Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken tiba di Tel Aviv pada Senin malam untuk memberi pengarahan kepada para pejabat Israel mengenai pembicaraan dua hari dengan para pemimpin Arab untuk mengakhiri perang.
Namun, survei Reuters pada hari Jumat menemukan bahwa produksi minyak OPEC meningkat pada bulan Desember karena peningkatan di Angola, Irak dan Nigeria mengimbangi pemotongan yang berkelanjutan oleh Arab Saudi dan anggota aliansi OPEC+ lainnya.
Pasokan yang lebih tinggi telah mendorong Arab Saudi untuk memotong harga jual resmi minyak mentah Arab Light andalan mereka di Asia pada bulan Februari ke level terendah dalam 27 bulan.
Harga minyak kemungkinan akan diperdagangkan pada kisaran 75 dolar AS hingga 80 dolar AS per barel dalam waktu dekat. Hal ini jika tidak terjadi gejolak yang tidak terduga dalam situasi di Timur Tengah.
Di sisi pasokan, ada beberapa faktor peningkatan dari penutupan ladang minyak terbesar Libya, yang berdampak pada produksi minyak sekitar 0,3 juta barel per hari.
Editor: Aditya Pratama