Harga Minyak Mentah Turun, Laba Bersih Pertamina Naik 2 Kali Lipat

Okezone ยท Senin, 26 Agustus 2019 - 23:53 WIB
Harga Minyak Mentah Turun, Laba Bersih Pertamina Naik 2 Kali Lipat

Pertamina. (Foto: ilustrasi/Ant)

JAKARTA, iNews.id - PT Pertamina (Persero) mencatat laba bersih 660 juta dolar AS sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Jumlah ini naik dua kali lipat bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 331 juta dolar AS.

Direktur Keuangan Pertamina, Pahala N Mansury mengatakan, kenaikan laba bersih perseroan karena turunnya harga minyak mentah Indonesia (ICP). Penurunan harga tersebut mendorong turunnya beban pokok penjualan, terutama harga bahan baku, harga hingga 6 persen.

Harga rata-rata ICP pada semester I-2019 sebesar 63 dolar AS per barel. Harga ini lebih rendah dibanding harga rata-rata ICP pada semester I-2018 yang sebesar 66 dolar AS per barel.

"Hal tersebut memang berpengaruh pada penurunan pendapatan. Namun karena dikombinasikan dengan efisiensi biaya operasional lainnya, biaya dapat ditekan lebih banyak lagi," ujar dia di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Selain harga minyak mentah, kata Pahala, kenaikan beban bersih juga disebabkan distribusi yang lebih murah. Sejak awal tahun, Pertamina mengurangi impor minyak mentah secara signifikan untuk membeli minyak yang diproduksi kontraktor kerja sama (KKKS) di dalam negeri.

"Sampai dengan akhir Juli 2019, total kesepakatan pembelian minyak mentah dan kondensat dari KKKS domestik mencapai 123,6 MBCD (million barrel crude oil per day)," ucapnya.

Mantan direktur keuangan Bank Mandiri itu menilai, perbaikan kinerja keuangan Pertamina juga terlihat dari marjin laba. Dia menyebut, marjin laba kotor (gross profit margin) berada di kisaran 14 persen sementara marjin laba operasional (operating profit margin) di kisaran 8 persen.

Peningkatan kinerja juga tercermin dalam arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar 1,57 miliar dolar AS. Angka ini meningkat 2 kali lipat dari posisi pada tahun lalu yang sebesar 756 juta dolar AS.

"Walaupun terdapat peningkatan pada aktivitas investasi dan pembayaran pinjaman, cash-on-hand tetap terjaga di level 7,38 miliar dolar AS," katanya. (Taufik Fajar)

Editor : Rahmat Fiansyah