Harga PCR dan Tiket Pesawat Terjun Bebas, Maskapai Penerbangan Belum Bergairah

azhfar muhammad ยท Senin, 06 September 2021 - 12:23:00 WIB
 Harga PCR dan Tiket Pesawat Terjun Bebas, Maskapai Penerbangan Belum Bergairah
Suasana di teminal III, Bandara Soekarno-Hatta. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Harga tes PCR dan Antigen, serta tiket pesawat yang terjun bebas belum membuat maskapai penerbangan bergairah. Pasalnya, syarat perjalanan yang masih ketat, membuat masyarakat membatasi bepergian. 

Pengamat penerbangan, Alvie Lie Ling Piao, mengatakan ketatnya syarat perjalan udara membuat daya beli masyarakat menurun. Biaya dan waktu tambahan yang harus dikeluarkan untuk memenuhi syarat perjalanan, membuat masyarakat cenderung menahan diri untuk bepergian. 

“Kebutuhan bepergian naik pesawat itu selalu ada, tapi sekarang hanya orang-orang yang perlu saja. Kalau orang yang tidak memiliki kebutuhan mendesak tidak akan pergi,” kata Alvin, saat dihubungi MNC Portal Indoensia, Senin (6/9/2021).

Meskipun pemerintah telah menurunkan harga tes PCR menjadi Rp495.000 untuk Jawa-Bali, dan Rp550.000 di luar Jawa-Bali, hal itu tak terlalu berpengaruh karena masyarakat tetap harus mengeluarkan biaya tambahan. Apalagi syarat tes PCR tersebut, membuat masyarakat harus meluangkan waktu untuk mengikuti tes sebelum melakukan perjalanan. 

“Untuk test PCR yang saat ini kian menurun harganya bisa dikatakan masih  sedikit. PCR bukan sekedar soal harga. Itu  juga berkaitan  waktu proses yang minimal 6 jam & masa berlaku hanya 2 hari sejak sampel diambil itu kan juga membuat sedikit ribet,” papar Alvie.

Seperti diketahui, maskapai berdondong-bondong menurunkan harga tiket maskapai dan memangkas harga tes Covid PCR dan Antigen. Salah satunya adalah Garuda Indonesia yang memberikan promo harga tes PCR sebesar Rp1. 

Harga maskapai yang murah, juga harga tes PCR yang diturunkan belum cukup menggairahkan masyarakat untuk melakukan perjalanan. Pasalnya, syarat utama untuk perjalanan saat ini adalah telah mengikuti vaksinasi Covid-19 minimal dosis pertama. Sementara saat ini, vaksinasi Covid-19 belum yang belum mencapai 50 persen.

Dia menjelaskan, syarat tersebut membuat penumpang yang bisa terbang hanya mereka yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 dan sedangkan populasi yang telah divaksin di Indonesia hanya 30  persen.

“Berati potensi angin segarnya juga hanya 1/3 dari biasanya kan, mungkin orang orang mau terbang tapi belum divaksin gak bisa terbang juga. Sedangkan juga vaksin kita belum mulus-mulus banget bahkan belum mencapai 30 persen,” tutur Alvie.

Meski demikian, dia menilai angin segar untuk maskapai penerbangan datang seiring diturunkannya harga tes PCR dan Antigen, serta dilonggarkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level3 di Jawa Bali seiring turunnya kasus Covid-19. 

Hanya saja, industri penerbangan belum sepenuhnya bergairah karena ketidakpastian situasi pandemi Covid-19 terutama dengan munculnya varian baru yang sewaktu-waktu dapat memicu peningkatan kasus Covid-19 jika capaian vaksinasi Covid-19 belum meluas dan merata.  
 
“Kita berharap industri tetap eksis tetap berjalan transportasinya, masyarakat harus mempertahankan dan bisa mengontrol laju penyebaran kasus Covid-19 di Indonesia agar tidak ada lonjakan kembali gelombang 2 atau 3,” tutur ungkap Alvie.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: