Imbas Virus Corona, 13 Universitas di Inggris Terancam Bangkrut

Djairan ยท Senin, 06 Juli 2020 - 23:17:00 WIB
Imbas Virus Corona, 13 Universitas di Inggris Terancam Bangkrut
Pandemi Covid-19 ternyata tak hanya memukul sektor bisnis seperti toko ritel dan pusat perbelanjaan. (Foto AFP)

LONDON, iNews.id - Pandemi Covid-19 ternyata tak hanya memukul sektor bisnis seperti toko ritel dan pusat perbelanjaan. Lembaga perguruan tinggi atau universitas ternyata juga tak luput dari dampak krisis ini. 

Bukan tidak mungkin, kampus besar yang selama ini sudah dikelola dengan baik pun ternyata juga ikut bangkrut. Itulah yang sedang terjadi di Inggris Raya. 

Sebanyak 13 universitas di sana tengah beresiko mengalami kebangkrutan. Sebuah studi oleh Institute for Fiscal Studies (IFS) menyebutkan, hal itu disebabkan pandemi corona yang menggerogoti keuangan universitas-universitas tersebut.

Adanya pembatasan perjalanan yang diperketat dengan kebijakan lockdown, telah membuat belasan universitas itu kesulitan bertahan tanpa mahasiswa dan tenaga pengajar. Bahkan, selama pandemi ini, banyak dari mereka yang pindah ke program belajar online, sebagianya lagi tidak berencana untuk kembali ke universitas sampai musim panas 2021. 

Tak hanya itu, banyak calon mahasiswa dari luar Inggris Raya yang tampaknya mengurungkan niat untuk belajar di sana. "Total pendapatan sektor universitas di Inggris Raya adalah sekitar 40 miliar poundsterling (Rp722,34 triliun) per tahun, atau sekitar 1,8 persen dari pendapatan nasional. Dan saat ini pendapatan tersebut beresiko bangkrut karena wabah Covid-19,” ujar pihak peneliti IFS dikutip dari CNBC Senin (6/7/2020).

Peneliti IFS memperkirakan, 13 perguruan tinggi yang menjadi objek kajian tersebut bisa bangkrut tanpa bailout dari pemerintah, atau setidaknya restrukturisasi utang. Universitas yang memiliki banyak mahasiswa internasional ternyata lebih beresiko masuk dalam kondisi insolvensi. 

Sementara itu, pemerintah Inggris Raya telah memberi isyarat bahwa tidak akan ada dana talangan untuk sektor yang satu ini. Artinya, hal tersebut memberikan lampu hijau kepada pihak universitas, untuk membebankan biaya penuh kepada mahasiswa pada tahun akademik mendatang.

Dalam studinya, IFS berasumsi jumlah mahasiswa dari Uni Eropa (UE) dan negara lain hanya akan mencapai setengah dari jumlah biasanya pada musim gugur. Kemudian peserta didik dari Inggris Raya sendiri tampaknya akan berkurang 10 persen.  

Tak sedikit calon mahasiswa yang memilih menunda untuk mendaftar ke pendidikan tinggi. Selain itu, pendapatan dari akomodasi, katering dan konferensi atau seminar akan hilang selama sisa tahun akademik di 2020 ini. 

Menurut perhitungan IFS, total kerugian jangka panjang 13 universitas itu bisa mencapai 11 miliar pound sterling (Rp200 triliun), lebih dari seperempat pendapatan dalam satu tahun.  


Editor : Ranto Rajagukguk