Indahnya Transformasi ala Rudolf Tjandra
JAKARTA, iNews.id - CEO PT Sasa Inti, Rudolf Tjandra berbagi resep mentransformasi bisnis (turnaround). Resep tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman Rudolf berkiprah di berbagai perusahaan.
Dia menyebut, isu yang paling sering ditemuinya mengapa perusahaan sulit berkembang selalu terkait dengan masalah sumber daya manusia (SDM).
"Jika ada sebuah bisnis yang dulunya sukses, tapi sekarang tidak, hampir selalu menjadi masalah biasanya terkait isu SDM. Bukan isu pembiayaan, bukan modal, tapi karyawan, manajemen, dan pemilik," tulis Rudolf lewat LinkedIn pribadi, dikutip Rabu (26/2/2020).
Dia menyebut, masalah SDM terkait dengan bagaimana orang-orang yang terlibat dalam bisnis bisa mengeksekusi visi dan misi perusahaan. Persoalannya bisa saja orang-orang tak berani mengambil risiko atau berani melakukan sesuatu yang tidak biasa atau repetitif.
"Bekerja lebih keras dan lebih keras lagi untuk melakukan hal yang sama sekarang tidak lagi relevan ketika dunia lebih membutuhkan sesuatu yang unik, otentik, dan relevan untuk masyarakat," katanya.
Setelah SDM, isu yang bisa dievaluasi yaitu brand. Dia menyebut, brand kerapkali tak nyambung antara apa yang ditawarkan di depan (konsumen) dengan pengerjaan di belakang (operasional). Brand, kata dia, bukan soal nama, melainkan bagaimana dia bisa terkoneksi dengan psikologi konsumen.
"Jika sebuah brand -atau bisnis- kehilangan nilainya di mata konsumen, nilai tersebut perlu digali kembali, dan nilai (brand) bisa diperkuat secara regional, nasional, atau internasional," ujarnya.
Masalah brand, menurut dia, seringkali terkait operasional. Brand yang bagus butuh operasional belakang layar yang bagus juga, sehingga nilai brand dari produk bisa sampai kepada konsumen.
Namun, dia menilai untuk memperkuat operasional, misalnya ekspansi butuh dana yang besar.
"Semua bisnis yang sukses tentu membutuhkan produksi, sumber daya, dan pembiayaan untuk memenuhi visi. Tugas Anda adalah mengembangkan operasional sesuai dengan peluang yang ada," tulisnya.
Kembali lagi, kata dia, semua itu akan sukses kalau SDM yang ada mampu. Untuk itu, seorang pemimpin harus terjun langsung memantau bisnisnya. Pemimpin harus terbuka, berbicara kepada karyawan, dan menunjukkan kepedulian terhadap karyawan.
Terkadang, seorang pemimpin harus terpaksa memecat orang yang tidak sejalan meski hal itu harus menjadi opsi terakhir.
Namun, kata dia, semua orang yang ada di dalam bisnis harus diberikan kesempatan bukan hanya untuk menyelamatkan posisi mereka, namun untuk menciptakan karya yang baik dan berguna bagi perusahaan.
"Bagian yang terbaik dari transformasi bisnis adalah ini menjadi momen menyenangkan dan bisa sangat memuaskan. Sangat bagus bila semua rencana bisa bekerja. Sangat puas apabila bisnis yang lesu menjadi berkembang pesat," tulisnya.
Rudolf menyebut karyawan atau orang pada akhirnya yang memperoleh manfaat. Bagi pemimpin, saat karyawan bisa terus bekerja dan menapaki kariernya menjadi kebahagiaan yang tak ternilai.
"Itu adalah hadiah yang bisa dirasakan sangat lama setelah perjalanan Anda berakhir," katanya.
Editor: Rahmat Fiansyah