Ini Model Bisnis Korporasi Petani dan Nelayan yang Disiapkan Pemerintah

Antara ยท Selasa, 06 Oktober 2020 - 17:17 WIB
Ini Model Bisnis Korporasi Petani dan Nelayan yang Disiapkan Pemerintah

Kementerian Koperasi dan UKM menyiapkan model bisnis korporasi petani dan nelayan yang diharapkan dapat direplikasikan di berbagai daerah Indonesia. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Koperasi dan UKM menyiapkan model bisnis korporasi petani dan nelayan yang diharapkan dapat direplikasikan di berbagai daerah Indonesia. Seperti apa?

“Kami menyiapkan piloting model business korporasi petani atau nelayan yang kami replikasi di berbagai tempat, ada beberapa, misalnya beras seluas 800 hektare di Demak, kelapa sawit di Pelalawan Riau, beberapa komoditas lain yang bagus untuk piloting kerja sama antarkementerian,” ujar Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki dalam jumpa pers usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi), Selasa (6/10/2020).

Dia mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan Belanda untuk mengembangkan model koperasi pertanian untuk dijadikan model bisnis koperasi di Indonesia.

Teten berharap pengembangan koperasi yang lebih modern akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani atau nelayan yang dapat memetik profit dari bisnis model yang dikembangkan.

“Tidak bisa lagi petani, nelayan, UMKM berusaha sendiri perorangan dalam skala kecil, tapi harus bergabung dalam skala efisien, kami dorong mereka bergabung dalam koperasi,” katanya.

Pihaknya mengembangkan model bisnis, misalnya untuk petani sawit di Pelelawan, Riau, yang didorong untuk berkoperasi kemudian membangun pengolahan CPO.

Selain itu, petani beras di Demak, Jawa Tengah, didorong mengembangkan sawah seluas 100 hektare untuk produknya yang diekspor dan sebagian masuk ke pasar ritel domestik. Bahkan, ketika permintaan terus meningkat, para petani tersebut memperluas lahan usaha hingga 800 hektare.

“Mereka berkoperasi kemudian membentuk PT dan membangun pabrik besar modern dengan investasi Rp40 miliar dengan Rp12 miliar di antaranya diperoleh dari koperasi petani. Model seperti ini nanti kami integrasikan ke sistem pembiayaan KUR untuk petani penggarap dalam mengembangkan padi,” katanya.

Teten mengatakan pihaknya juga akan memperkuat koperasi sebagai korporasi petani dan nelayan dari sisi pembiayaan dengan menyediakan dana bergulir dari LPDB KUMKM.

“Koperasi diperkuat pembiayaan dari LPDB KUMKM, jadi koperasi beli gabah dan baru diolah RMI dan nanti yang jual ke market adalah koperasi agar petani dapat keuntungan dari seluruh proses dari tanam, pengolahan, sampai ‘end product’ seluruhnya dikelola petani jadi bantuan pupuk, bibit sampai pembiayaan bisa dikelola untuk produktivitasnya,” katanya.

Ke depan, lanjut Teten, pihaknya juga akan mereplikasikan model bisnis serupa ke komoditas yang lain termasuk garam, ikan, dan lainnya dengan menggandeng kementerian/lembaga lain termasuk BUMN.

Editor : Dani Dahwilani