Investor Asing Ramai-Ramai Tertarik Danai Ibu Kota Baru Indonesia

Muhammad Aulia ยท Sabtu, 29 Februari 2020 - 15:05 WIB
Investor Asing Ramai-Ramai Tertarik Danai Ibu Kota Baru Indonesia

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah Indonesia memindahkan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Keputusan tersebut dinilai menelan dana besar.

Berdasarkan studi kelayakan (feasibility study) Bappenas, pembangunan ibu kota baru membutuhkan dana Rp466 triliun. APBN menanggung 19 persen sementara 81 persen sisanya atau Rp370 triliun akan menarik dana dari BUMN dan swasta.

Untuk menarik dana investor, pemerintah menggalangnya lewat skema sovereign wealth fund (SWF). Target dana yang terkumpul sedikitnya 20 miliar dolar AS atau Rp280 triliun.

Presiden Jokowi telah menunjuk tiga figur internasional dari latar belakang yang berbeda dalam dewan pengarah ibu kota baru. Mereka masing-masing Mantan PM Inggris Tony Blair, Pangeran UEA Mohammed bin Zayed Al Nayhan, dan CEO SoftBank Masayoshi Son.

Selain itu, konsep desain ibu kota dibuat semenarik mungkin sebagai kota masa depan yang ideal. Konsep Nagara Rimba Nusantara menawarkan aspek alam dan kemajuan teknologi yang dipadupadankan.

Konsultan internasional juga dilibatkan dalam pembangunan ibu kota. Setelah McKinsey bergabung dalam studi kelayakan, dua konsultan baru yang bakal ikut yaitu Aecom (AS) dan Nikkei Sekkei (Jepang).

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan mengatakan, pemerintah terbuka dengan semua pihak untuk bersama-sama membangun ibu kota. Yang terbaru, perusahaan manajemen investasi terbesar di dunia, BlackRock Inc tertarik ikut bergabung dalam SWF.

"Misalnya ada BlackRock mau masuk, ada mungkin IDFC mau masuk, semua terbuka, kita enggak bergantung sama satu orang," kata Luhut, Jumat (28/2/2020).

BlackRock saat ini mengelola dana investor sebesar 7,4 triliun dolar AS atau setara Rp103 kuadriliun per akhir 2019. Sementara IDFC (International Development Finance Corp), lembaga private placement yang baru dibentuk Presiden Donald Trump saat ini memiliki dana kelolaan sekitar 60 miliar dolar AS.

AS bukan satu-satunya negara yang tertarik berinvestasi di ibu kota baru. Luhut menyebut ada sedikitnya 30 perusahaan besar dari Korea Selatan hingga Singapura yang ingin berinvestasi di ibu kota baru.

"Mereka dari Amerika ingin masuk, Jepang masuk, Abu Dhabi masuk, Singapura, banyak sekali. Semua kami lanjutkan dengan high quality," kata dia.

Editor : Rahmat Fiansyah